Rektor UAD Imbau Fakultas Rancang Kerja Sama dengan Universitas Monash Australia

Bersama dengan delegasi Majelis Dikti Pimpinan Pusat Muhammadiyah (PPM) Dr. Haedar Nashir, M.Si. dan lebih dari 20 rektor PTM (Perguruan Tinggi Muhammadiyah), Dr. Kasiyarno, M.Hum. selaku Rektor Universitas Ahmad Dahlan (UAD) menghadiri Signing Ceremony antara Majelis DIKTI PPM dengan Monash University di Melbourne, Australia,

Setelah melakukan kunjungan itu, Rektor UAD mengimbau para dekan Fakultas UAD dapat mulai merancang kegiatan kerja sama dengan Universitas Monash dalam berbagai kegiatan, dan berharap direalisasikan tahun 2018 ini.

“Rancangan-rancangan kerja sama tersebut semoga dapat segera diimplementasikan,” pinta Kasiyarno.

Ketua Majelis Dikti PPM juga berpesan kepada seluruh rektor PTM agar segera menindaklanjuti MoU dengan mengimplementasikan semua butir kerja sama. Adapun butir bentuk kegiatan-kegiatan yang telah disepakati bersama antara lain join conference, student exchange, visiting professor, dan join research.

Prof. Lincolin Arsyad mengingatkan bahwa MoU tidak ada maknanya sama sekali apabila tidak segera diikuti oleh implementasi. Oleh sebab itu PTM harus menjaga marwah Muhammadiyah sebagai organisasi modern yang konsisten dengan janji yang telah disepakati dengan menyelenggarakan kegiatan-kegiatan realisasi dari MoU.

Pada pertemuan yang berlangsung (15/2/2018) tersebut, semua rektor PTM juga diberi kesempatan sendiri-sendiri menandatangani MoU dengan pihak Universitas Monash. Kemudian, acara dilanjutkan dengan meninjau lokasi “calon” sekolah Muhammadiyah di pinggiran kota Melbourne.

UAD-Muhammadiyah Jajaki Kerja Sama dengan Universitas Canberra

Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta dan Muhammadiyah melakukan pembicaraan penjajakan kerja sama dengan Universitas Canberra Australia, Senin (19/2/2018). Pembicaraan dan diskusi kedua belah pihak sangat konstruktif. Gagasan-gagasan kerja sama dari Rektor UAD maupun Direktur Program Internasional yang ditawarkan memperoleh tanggapan positif.

Melalui pembicaraan bilateral ini, kedua belah pihak menyepakati adanya kemungkinan kerja sama dalam bidang student exchange, join conference, visiting professor, maupun join research. Dalam bincang-bincang informal tersebut, secara pribadi Prof. Roland Goecke bersedia diundang ke UAD sebagai pembicara dalam join seminar atau join research dengan tajuk yang berkaitan dengan digital forensic.

Sebelum dialog kerja sama, rombongan yang terdiri atas Ketua Umum PP Muhammadiyah Dr. Haedar Nashir, Rektor UAD Dr. Kasiyarno, M.Hum., Wakil Rektor I UAD Dr. Muchlas, M.T., Direktur Program Internasional UAD Dwi Santoso, Ph.D., dan Atdikbud Canberra Imran Hanafi, sempat berkeliling ke laboratorium Fakultas Sains dan Teknologi.

Di laboratorium, rombongan diperkenalkan dengan Dr. Reena Ghildyal, seorang profesor dalam bidang mikrobiologi. Dari pertemuan ini Reena banyak menjelaskan tentang berbagai riset terkait bidang keilmuannya. Selain itu, rombongan juga diperlihatkan beberapa maneken yang menjadi media pembelajaran anatomi manusia.

Menimbang dari hasil pembicaraan penjajakan kerja sama serta resources yang tersedia di UAD, dalam waktu dekat sangat memungkinkan untuk diimplementasikan. Kerja sama antara UAD dengan Universitas Canberra bisa dalam bentuk join research untuk bidang biologi, farmasi, dan kesehatan. Sementara itu, untuk bidang pendidikan dapat dilaksanakan kegiatan join conference dan student exchange. Sedangkan visiting professor untuk bidang fisika.

Perlu diketahui, hampir sama dengan UAD, Universitas Camberra Australia pada awal berdirinya berbentuk institut keguruan sehingga sangat kuat dalam bidang pendidikan. Kesamaan inilah yang memungkinkan kerja sama antarkedua pihak dapat segera terealisasikan dalam bentuk kegiatan. (ard/doc)

UAD Tidak Melarang Cadar

“UAD tidak pernah mengeluarkan larangan mengenakan cadar. Kami hanya membuat aturan untuk memverifikasi foto perorangan saat ujian. Kalau pakai cadar kan tidak bisa verifikasi, jadi harus dibuka. Ini untuk menghindari terjadinya joki. Dan yang membuka itu dosen perempuan serta dilakukan di ruang khusus seperti ruang transit. Itu saja. Jadi tidak ada larangan,” tandas Rektor UAD saat diwawancarai di ruang kerjanya, Rabu (7/3/2018).

Dilansir dari laman detik.com yang memuat tulisan mengenai mahasiswi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dilarang mengenakan cadar saat ujian itu merupakan berita yang tidak benar. Dari keterangan Dr. Kasiyarno, M.Hum., UAD tidak pernah melarang, hanya diperlukan untuk kepentingan verifikasi saja. Setelah proses verifikasi, cadar boleh digunakan lagi saat ujian.

Lebih lanjut Kasiyarno mengungkapkan, UAD tidak pernah menyinggung atau mengaitkan cadar dengan radikalisme. Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) ini hanya menawarkan pemahaman Islam dari sudut pandang Muhammadiyah.

Ia menekankan, sebagai lembaga pendidikan, UAD berkewajiban mendidik mahasiswa. Siapa pun yang masuk ke UAD akan dilayani. Perlu diketahui, aturan berpakaian di kampus ini juga Islami. Muslim perempuan berhijab dan tidak berpakaian ketat serta transparan. Tidak ada juga anjuran untuk memakai maupun larangan mengenakan cadar.

“UAD merupakan perguruan tinggi yang inklusif, bukan eksklusif. Siapa saja boleh kuliah di sini. Bahkan banyak mahasiswa dari berbagai lintas agama. Meskipun demikian, UAD tetap melakukan pembinaan mahasiswa sesuai dengan al-Islam dan Kemuhammadiyahan,” terangnya.

Sementara itu, HN (inisial) dan Efi, dua mahasiswi UAD yang mengenakan cadar mengaku nyaman-nyaman saja bercadar di UAD. Bahkan dari keterangannya, dosen dan teman-temannya cukup banyak yang mendukung, meskipun beberapa ada yang terkesan menjauh karena belum terbiasa dengan orang yang mengenakan cadar.

“Kami merasa nyaman-nyaman saja mengenakan cadar di UAD. Hanya saja akhir-akhir ini merasa sedikit tertekan karena banyaknya isu-isu yang memojokkan dan sindiran dari beberapa pihak yang memahami sesuatu hanya berdasar pemikirannya sendiri,” terang Efi ketika diwawancarai, Kamis (08/3/2018).

Sementara untuk keperluan verifikasi, kedua mahasiswi tersebut menerangkan tidak ada masalah jika melepas cadar.

“Tidak apa-apa jika untuk keperluan verifikasi, misalnya saat ujian. Seperti pas foto yang digunakan untuk kelengkapan berkas juga tidak masalah. Bercadar kan bukan untuk menutup diri, tapi menjaga diri, ” jelas mahasiswi Program Studi Manajemen asal Cilacap ini. (ard)

KKN UAD Anak Bangsa

Kamis (1/3/2018), rombongan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Anak Bangsa 3, tiba di Bandara Adisucipto Yogyakarta setelah melaksanakan tugas pengabdian di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Sambas merupakan daerah yang masuk dalam kategori terdepan, terluar, dan tertinggal (3T). Untuk ketiga kalinya, Sambas menjadi sasaran pembelajaran, pemberdayaan, dan pencerahan masyarakat.

KKN Anak Bangsa merupakan program KKN khusus yang diselenggarakan UAD untuk mahasiswa yang aktif di Ortom, baik Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), HW, maupun Tapak Suci. Sebanyak 26 mahasiswa yang mengikuti KKN Anak Bangsa 3 mayoritas merupakan kader IMM. Ada yang sudah demisioner di tingkat komisariat dan masih aktif di pimpinan cabang.

Beberapa di antaranya yang mengikuti antara lain, Presiden Mahasiswa, Ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM), beberapa Corps Instruktur Djazman Al Kindi, dan Ketua HW UAD. Menurut Immawan Anshori, Ketua DPM UAD, KKN Anak Bangsa 3 merupakan kado milad IMM dari UAD. Kegiatan ini sesuai dengan tema Milad IMM ke-54, “Peran IMM Mewujudkan Masyarakat Berbudaya untuk Masyarakat Indonesia Berdaulat”.

“IMM akan meluncurkan Gerakan IMM mengabdi, tetapi UAD lebih dahulu mengawali pengabdian kepada masyarakat melalui pemberdayaan kader IMM,” tadasnya.

Sementara, Ihsan Ketua Divisi KKN AB3 menyatakan, program KKN ini adalah wujud nyata peran IMM dalam mengabdi untuk Negeri. (ard/doc)

UAD to Send 10 Students to the Philippines

Ten postgraduate students of English Language Education (PBI) Program of Ahmad Dahlan University (UAD) are going to construct their thesis at the University of Saint Anthony (USANT) Philippines for 3 months. This "Thesis Writing Supervision" program is a regular agenda of the Master Program of PBI and this is the sixth batch since it is first started.

From the explanation delivered by Dr. R.A. Noer Doddy Irmawati, M.Hum., as the Head of the study program, batch 6 consists of ten students selected based on their academic achievement, TOEFL, and research proposal.

"The level of the student enthusiasm to join the program is very high. It is because their thesis writing can be completed faster when joining the program. In addition, students will have experience studying abroad and can improve their ability to speak English,” she explained.

Judging from the graduates of PBI Master Program who have participated in the program, it is concluded that most of them are able to get jobs quickly and fill a strategic position. This program is one of the eminent courses that have been accredited A with a score of 371.

The release of the ten students was held in the main courtroom of UAD campus on Jln. Kapas 9, Semaki, Yogyakarta onThursday (1/3/2018) and was attended by UAD Rector. Kasiyarno, M.Hum., Vice Rector IV Prof. Sarbiran, Ph.D., and Head of International Affairs Office (KUI), Ida Puspita, M.A., Res. The students will be accompanied by three assistants from UAD; Dr. R.A. Noer Doddy Irmawati, M.Hum., Drs. Surono, M. Hum., Drs. Akmal, M.Hum., M.Sc., Ph.D.

Kasiyarno expressed his hope that the students could maintain UAD reputation while in the Philippines. He advised them to adapt to the environment and culture which are completely different from those in Indonesia.

The names of the students participated in "Thesis Writing Supervision Program" are Ima Frafika Sari, Dwi Indra Aprilliandari, Jusman, Prastyawan Aji Sugiharto, M. Saleh Ahalik, Abdah, Abas Oya, Ajid La Hanisi, Defy Gustianing and Antika Dwiyanti. (ard)

The Author of Cahaya di Tirai Sakura Visited FAS of UAD

Riza Perdana Kusuma, the author of the best-selling novel Cahaya di Tirai Sakura, attended Literature Appreciation Forum (FAS) of Indonesian Language and Literature Education study program (PBSI) of Teacher Training and Education Faculty (FKIP), Ahmad Dahlan University (UAD). Apart from being a writer, he also acted as a reviewer, with Jemi Ilham as the moderator.

"Tonight, I specifically came to Yogyakarta only for UAD!" he exclaimed in the middle of the book review session.

Located in UAD Campus 2 hall on Jalan Pramuka, Riza told his life story while he was in Japan that he poured into the novel. He endlessly provided motivation to the audience, both motivation in writing and motivation in life. For him, dreams are necessary and really likely to come true someday.

"UAD is actually the seventeenth university I have visited since the launch of this book. Since beginning writing, I have promised to myself and make a commitment that this is a time for me to give back to the society. It is time I give something to the society, serve the community. I do this not for the money, but I do this voluntarily as something given by Allah SWT. So, once this was accomplished (the publication of Cahaya di Tirai Sakura), I promised that I would try to attend every invitation that I get," said Riza when met after the event.

Riza admitted that he deeply appreciated the enthusiasm of the audience that was present in the book review of Cahaya di Tirai Sakura.

"I am always excited when I see other people appreciate my book. There are not many people who are given a chance to be able to share what they experienced. And, alhamdulillah, I have earned a lot in this life that I want to always share everything. Every time I see this kind of enthusiasm, it feels like a blessing for me."

In an event that was held on February 28th 2018, Riza shared a variety of unique stories during his stay in Japan, his writing motivation, and his tips to be successful in life. (dev)
 

Temu Alumni PBSI UAD

“Setiap alumni memiliki cara berbeda-beda dalam menyebarkan ilmu. Bisa melalui lembaga pemerintahan, guru, bahkan bekerja di kepolisian. Ini menunjukkan bahwa lulusan PBSI UAD memiliki keterampilan di berbagai bidang. Dari pertemuan ini, kami ingin menguatkan silaturahmi dan sinergi,” terang Dra. Sudarmini, M.Pd., ketua panitia temu alumni Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Universitas Ahmad Dahlan (UAD).

Menurutnya, hubungan baik antara alumni dan program studi harus dijaga, karena alumni merupakan salah satu aset penting yang tidak boleh dikesampingkan.

Acara menarik ini diselenggarakan di auditorium Masjid Ahmad Dahlan Kompleks Islamic Center kampus 4 UAD, Jln. Lingkar Selatan, Tamanan, Bantul, Yogyakarta, Minggu (4/3/2018). Tiga pembicara dihadirkan. Mereka merupakan lintas generasi alumni PBSI UAD yang memiliki latar pekerjaan berbeda-beda.

Pembicara pertama Dr. Asyraf Suryadin merupakan Kepala Biro Kesra Provinsi Bangka Belitung dan saat ini dipercaya sebagai PJS Walikota Pangkalpinang. Sementara pembicara kedua Esti Suryani, M.Pd. adalah salah satu guru berprestasi di DIY dan Jateng dari SMK Negeri 1 Surakarta. Terakhir yang paling muda Mahfud Suwono Jati, S.Pd., saat ini bekerja sebagai penyidik di Polda DIY.

Sementara Dra. Triwati Rahayu, M.Hum., yang saat ini menjabat sebagai Ketua Program Studi menginginkan adanya koneksi dan komunikasi yang berkelanjutan, utamanya untuk alumni yang berada di luar Jawa.

“Terkadang sulit untuk menjalin koneksi dengan alumni yang ada di luar Jawa, tetapi kami sedang mengusahakan. Intinya, antara alumni dan program studi tetap harus menjaga komunikasi.”

Perlu diketahui, pada acara tersebut, alumni tertua yang hadir angkatan 1982 dan yang termuda 2013. Selain mengadakan diskusi panel, tindak lanjut dari kegiatan yang bertajuk “Menjalin Koneksi dengan Alumni” ini untuk merumuskan Pengurus Alumni PBSI Pusat dan rencana penerbitan buku setiap tahun sekali. (ard)

 

Danrem Visited UAD

Danrem (the Head of Territorial Command at regency level) from Korem (Territorial Command at regency level) 072/Pamungkas Yogyakarta, Colonel Kav Muhammad Zamroni, S.I.P. visited Ahmad Dahlan University (UAD) Yogyakarta on Monday (27/2/2018). The visit was the first coming from a Danrem. According to his explanation, this was in order to strengthen the relationship between Korem and UAD.

"In this visit, we want to share the same vision for both institutions in terms of strengthening synergy. It is primarily in order to maintain the stability and security of the country from the latent threats that can cause disunity," he said.

He further revealed that it was important to maintain the relationship between agencies and institutions. Zamroni hoped that there would be cooperation between Korem 072/Pamungkas Yogyakarta and UAD. It would be great for them to be given the opportunity to meet the students and be invited to certain events in the campus.

Meanwhile, the Rector of UAD, Dr. Kasiyarno, M.Hum., welcomed his visit warmly. UAD itself has a good relationship with the Indonesian National Army (TNI). Through CIRNOV, UAD cooperates with PT Pindad and the Ministry of Defense and Security. (ard)

UPHEC 2018 to Improve Quality of Life

 
Ahmad Dahlan University (UAD) held an international seminar entitled "UAD Public Health Conference (UPHEC) 2018: Improving Quality of Life through Multisectoral Collaboration" as the closing event of the 57th Anniversary (Milad) event series. The event was held in collaboration with the Faculty of Public Health (FKM) and Faculty of Psychology of UAD.
 
From the chairman of UPHEC 2018, Dr. Nurul Qomariyah, M. Med., Ed., the purpose of this event was to gain a better understanding of problems, opportunities, and policy challenges faced by Indonesia and other countries, especially in conducting multisectoral collaboration to improve quality of life.
 
"The desired outcome is to promote multisectoral collaboration to improve the quality of life and promote the latest research in the field of quality of life," she said.
 
The event which was held at Royal Ambarrukmo Hotel on Wednesday to Thursday (21-22/2/2018) presented speakers from several ASEAN countries. Dr. Riskiyana Sukandhi Putra, M.Kes., from the Directorate General of Public Health of Kemenkes RI came as the keynote speaker.
The plenary speakers included Dr. Lee Shih Hui (UTM Malaysia), Lina Handayani, S.K.M., M.Kes., Ph.D. (UAD Indonesia), Dr. Raysul Haque (IUB Bangladesh), Eli Nurhayati, M.PH., Ph.D. (UAD Indonesia), and Ma. Teresa G. De Guzman, Ph.D. (UP Philippines).
 
Prof. Sarbiran, M.Ed., Ph.D., Vice Chancellor IV UAD, in his opening speech at the opening ceremony explained that the international seminar could increase public trust and add insight for the participants. Lecturers and students, especially UAD, are advised to frequently follow the international events.
 
"This seminar indicates that UAD is already internationally known. If so, we think it is time for FKM to start providing Master program. As for Faculty of Psychology, it is time to have Doctorate program since it has already have the Master program," he explained. (Ard)

UAD Jajaki Kerja Sama dengan KPK RI

Universitas Ahmad Dahlan (UAD) menjadi satu dari tiga perguruan tinggi di Yogyakarta yang dipercaya oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Republik Indonesia untuk menjalin kerja sama. Dalam rangka penjajakan kerja sama tersebut, diselenggarakan Forum Group Discussion (FGD) bertajuk “Implementasi Pendidikan Antikorupsi di Universitas Ahmad Dahlan”, Senin (27/2/2018) oleh Program Studi PPKn.

 

Acara yang berlangsung di aula Masjid Islamic Center UAD, Jln. Ringroad Selatan, Tamanan, Bantul, Yogyakarta, dihadiri Duta KPK RI Masagung Dewanto, S.E.,M.M., dan Irawati, S.E.,M.M. Sementara dari UAD hadir Dr. Kasiyarno, M.Hum. selaku Rektor, beserta Wakil Rektor I, III, dan IV. Turut hadir juga kepala LPSI, BPA, dan LPM, Dekan FKIP dan Fakultas Hukum, perwakilan dari Badan Eksekutif Mahasiswa, serta beberapa dosen pengampu matakuliah institusional dan dosen PPKn.

 

Dari penjelasan Masagung, FGD ini dalam rangka sharing bersama tentang formulasi implementasi pendidikan antikorupsi di UAD. KPK ingin menjadikan UAD sebagai mitra dan pilot project antikorupsi di perguruan tinggi. Menurutnya, pembinaan generasi antikorupsi penting di lingkungan perguruan tinggi.

 

“UAD sangat terbuka dengan KPK. Beberapa kali agenda yang diselenggarakan KPK,  UAD merupakan perguruan tinggi yang aktif berpartisipasi melalui mahasiswa maupun dosennya. Oleh karena itu, KPK coba menjajaki lebih lanjut untuk kerja sama dengan UAD, harapannya ada MoU dan bisa menyisipkan nilai-nilai antikorupsi di Tridharma Perguruan Tinggi,” ujar Masagung.

 

Menanggapi hal tersebut, Kasiyarno juga menginginkan UAD terlibat secara langsung membantu KPK dalam hal pencegahan tindak pidana korupsi. Ia menyampaikan, sosialisasi mengenai pendidikan antikorupsi masih jarang dipublikasikan.

 

“Pada intinya, kami sudah sejak lama menanamkan tindakan preventif, khususnya di lingkungan UAD.  Tindakan ini akan terus berlajut dalam rangka gerakan kebudayaan, bukan politik maupun struktural,” paparnya.

 

Kasiyarno juga menganggap bahwa pemberitaan sosialisasi dari KPK yang sasarannya siswa dan mahasiswa itu penting. Tidak hanya operasi tangkap tangan (OTT) saja yang dikedepankan. Pendidikan antikorupsi harus diberikan sedini mungkin. Nilai-nilai antikorupsi harus ditanamkan kepada mahasiswa, bisa melalui pembelajaran, kegiatan lapangan, maupun praktikum. (ard)