Dinamika Kebijakan Kurikulum 2013

“Kebijakan kurikulum pembangunan pendidikan dan kebudayaan tahun 2015-2019

Nawacita tertuang dalam RPJMN 2015-2019. Tujuannya untuk meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia, melakukan revolusi karakter bangsa, meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional, serta memperteguh kebhinnekaan dan memperkuat restorasi sosial Indonesia.” -Dr. Awaluddin Tjalla (Kepala Pusat Kurikulum dan Perbukuan)

Arah kebijakan pendidikan dan kebudayaan memiliki visi untuk mewujudkan insan serta ekosistem pendidikan dan kebudayaan yang berkarakter dengan berlandaskan gotong royong. Kerangka pengembangan kurikulum kompetensi abad 21 dijabarkan dalam 4 kategori, kemampuan belajar dan berinovasi, literasi digital, kecakapan hidup, dan karakter.

Kemampuan belajar dan berinovasi terdiri atas berpikir kritis dan penyelesaian masalah, kreativitas dan inovasi, komunikasi, kolaborasi. Literasi digital meliputi literasi informasi, media, dan teknologi. Sedangkan kecakapan hidup, di antaranya fleksibilitas dan adaptabilitas, inisiatif dan mandiri, interaksi lintas sosial-budaya, produktivitas dan akuntabilitas, kepemimpinan dan tanggung jawab.

Pendidikan merupakan proses pembudayaan, suatu usaha untuk memberikan nilai-nilai luhur kepada generasi baru dalam masyarakat yang tidak hanya bersifat pemeliharaan tetapi juga dengan maksud memajukan serta memperkembangkan kebudayaan menuju ke arah keluhuran hidup kemanusiaan. Idealnya, pendidikan dan pengajaran memerdekakan manusia secara lahiriah dan batiniah.

Sementara, pendidikan nasional adalah pendidikan yang beralaskan garis hidup dari bangsanya (cultureel-nationaal) dan ditujukan untuk keperluan perikehidupan (maatschappelijk) yang dapat mengangkat derajat negara dan rakyatnya, agar dapat bekerja bersama-sama dengan lain-lain bangsa untuk kemuliaan segenap manusia di seluruh dunia.

“Berbicara pendidikan tidak dapat terlepas dari kurikulum. Kurikulum bergerak secara dinamis mengikuti perubahan zaman, karena harus senantiasa relevan dalam menjawab kebutuhan manusia yang berkembang dari masa ke masa,” jelas Awaluddin ketika menyampaikan materinya dalam Seminar Nasional Pendidikan yang diselenggarakan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Minggu (19/11/2017).

Di Indonesia, nilai Pancasila menginspirasi ide dasar kurikulum. Kurikulum membentuk manusia Indonesia yang beragama dan menghormati agama lain. Mencintai bangsa, tanah air, dan negara. Memiliki kepedulian untuk mengembangkan kehidupan kebangsaan, sosial dan ekonomi yang berkeadilan. Mampu menghargai pluralisme sosial dan budaya. Berkontribusi mewujudkan kehidupan umat manusia yang bermartabat dan saling menghargai. Dan membangun masyarakat yang berkeadilan sosial.

“Kurikulum mengembangkan sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang menempatkan budaya Indonesia. Hal ini sebagai dasar pengembangan pendidikan yang mampu dan bermanfaat untuk kualitas manusia Indonesia.”

Kurikulum tidak pernah terlepas dari permasalahan. Sampai saat ini, sudah ada evaluasi dan perbaikan pada beberapa lini. Paling penting, perbaikan dokumen kurikulum 2013 akan memberikan ruang kreatif kepada guru. Silabus yang disiapkan pemerintah merupakan salah satu model untuk memberi inspirasi. Guru dapat mengembangkannya sesuai dengan konteks yang relevan. Dalam pembelajaran tematik (khusus jenjang SD), guru dapat mengembangkan tema dan subtema sesuai dengan konteks yang relevan. 5M (mengamati, menanya, mencoba, menalar, mengomunikasikan) merupakan kemampuan proses berpikir yang perlu dilatihkan secara terus menerus melalui pembelajaran agar siswa terbiasa berpikir secara saintifik. 5M bukanlah prosedur atau langkah-langkah atau pendekatan pembelajaran.

Kurikulum pada semua jenjang dan jenis pendidikan dikembangkan dengan PRINSIP DIVERSIFIKASI sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah, dan peserta didik (Pasal 36 ayat (2), UU SPN No. 20 Tahun 2003). Tujuannya untuk revolusi karakter anak bangsa.

Ada beberapa format diversifikasi. Pertama diversifikasi tema (tentatif) terkait maritim, agraris, niaga/jasa. Kedua diversifikasi geososiocultural tentang basis potensi lokal konteks nasional dan global (tetap dalam spirit Bhinneka Tunggal Ika). Ketiga diversifikasi bangun/struktur kurikulum. Pengembangan diversifikasi meliputi nasionalitas (maritim, agraris, niaga/jasa), kedaerahan (budaya lokal, kearifan lokal, keragaman alam), dan sekolah (niche dan konteks masing-masing sekolah).

Kurikulum diharapkan dapat menumbuhkan karakter. Penumbuhan karakter itu melalui pembelajaran yang bermakna, ekosistem dan budaya sekolah yang sehat, guru sebagai panutan, serta lingkungan keluarga dan masyarakat yang memperkuat penumbuhan nilai-nilai karakter dan budi pekerti anak. (doc/ard)

Bazar Aksi PBSI Dukung Gerakan Literasi

“Kami berharap acara ini dapat menguatkan tali silaturahmi mahasiswa PBSI dan meningkatkan minat literasi mahasiswa UAD,” ujar Rivan Setiawan, koordinator Perlengkapan Dekorasi dan Dokumentasi (PDD) Bazar, Aksi, dan Bedah Buku Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (Prodi PBSI) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Ahmad Dahlan (UAD). Ditemui di tempat acara, aula kampus 2 UAD Jalan Pramuka, mahasiswa semester tiga tersebut menjelaskan bahwa panitia bekerja sama dengan lima pihak dalam bazar buku tersebut. Antara lain Buku Mata, Buku-Buku Inspirasi, Pro-U Media, DIVA Press, dan Social Agency.

“Rangkaian kegiatan ini terdiri atas tiga acara, yaitu bazar buku, panggung aksi, dan bedah buku. Panggung aksi menampilkan bakat dan minat mahasiswa PBSI perwakilan dari masing-masing kelas. Jadwal penampilannya ada di pukul 10.00, 12.30, dan 14.00 WIB. Selain itu, kami juga mengadakan bazar kewirausahaan bergilir dari masing-masing kelas,” jelasnya.

Bazar aksi tersebut berlangsung selama tiga hari, 28-30 November 2017. Sedangkan bedah buku akan berlangsung pada 2 Desember 2017 di auditorium kampus 2 UAD. Muhsin Kalidan dan Muhammad Mursyid, penulis buku Gerakan Literasi Mencerdaskan Negeri, akan hadir dalam acara bedah buku tersebut. (dev)

Al-Qur’an sebagai Gagasan Sebuah Teori Ilmu Pengetahuan

"… وَإِذَا قِيْلَ انْشُزُوا فَانْشٌزٌوا يَرْفَعِ اللهُ الذِيْنَ ءَامَنُوا مِنْكُمْ وَالذِيْنَ اُوْتُوا العِلْمَ دَرَجتٍ…"

Artinya: “… Dan apabila dikatakan: ‘Berdirilah kamu’, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat…” (QS. al-Mujadilah:11)

Itulah salah satu landasan diselenggarakannya seminar “al-Qur’an dan Sains” pada Ahad (26/11/2017) di kampus IV Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Jalan Ringroad Selatan, Bantul, sejak pukul 15.30-17.30 WIB. Acara yang diprakarsai oleh Iksada (Ikatan Santri Pesantren Mahasiswa Ahmad Dahlan) ini sukses mendatangkan lebih dari 200 peserta yang berasal dari berbagai macam fakultas di UAD.

Pemateri yang dihadirkan adalah Agus Purwanto, D.Sc., selaku ulama Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, dosen Fisika di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Teknologi Surabaya (FMIPA ITS), serta penulis buku berjudul Ayat-Ayat Semesta yang membahas tentang al-Qur’an dan Sains.

Ia menerangkan bahwa Islam adalah agama yang luas dan kaya akan pembahasan. Islam mencakup seluruh kehidupan, termasuk ilmu pengetahuan.

“Dari itulah, banyak pula tokoh-tokoh Islam yang menjadi ilmuwan dunia, di antaranya Abu Bakar Muhammad bin Zakaria (ar-Razi), Ibnu Haitham, Abu Raihan al-Biruni, dan lain sebagainya,” ucapnya.

Dalam mengembangkan ilmunya, para ulama muslim tidak terlepas dari ayat-ayat al-Qur’an yang mereka pelajari. Seperti dalam QS. at-Taubah: 36, dijelaskan bahwa, “Sesungguhnya bulan pada sisi Allah adalah dua belas, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram….”

Tidak hanya itu, dalam QS. al-Anbiyaa: 33 juga diterangkan cara Allah menciptakan seluruh dunia dan isinya, “Dan Dia-lah yang menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.”

Begitulah al-Qur’an menjelaskan secara rinci mengenai ilmu pengetahuan. “Al-Qur’an telah menjadi gagasan dalam setiap teori yang tercipta di dunia ini. Mari kita mempelajari ilmu pengetahuan dan teknologi untuk tetap menjaga sumber daya alam kita, agar kita menjadi bangsa yang berdaulat,” kata Agus.

Di akhir pemaparan, ia berharap kaum muda Indonesia mampu menjadi Trensain-trensain (pejuang atau ijtihad Muhammadiyah) di abad 21 ini. (AKN)

Konser Musik Puisi untuk Muhammadiyah

Teater Jaringan Anak Bahasa (JAB) Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) menggelar Pentas Produksi: Pertunjukan Puisi Teater JAB 2017 bertajuk “Nyanyian Kebangkitan”. Mengangkat tema “Berantai Kisah, Beruntai Kasih”, pentas produksi dengan konsep konser musikalisasi puisi tersebut digelar di dua kota, yaitu Surabaya dan Yogyakarta.

“Yang menjadikan konser musik puisi ini menarik adalah, kami membawakan puisi-puisi karya penyair Muhammadiyah dan tokoh-tokoh yang dekat dengan Muhammadiyah,” jelas Farid Arifin, Pimpinan Produksi mewakili Teater JAB. Pentas pertama bertempat di Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMS) pada Sabtu (18/11/2017) lalu. Dalam pentas tersebut, Teater JAB membawakan musikalisasi puisi Syair untuk Leiser karya Jabrohim, Kabarkan Padaku karya Mahwi Air Tawar, Setelah Mencintaimu karya Acep Zamzam Noor, Tanah Air karya Sutardji Calzoum Bachri, Kasidah dari Negeri Hijau karya Abdul Wachid BS, dan Nyanyian Kebangkitan karya Ahmadun Yosi Herfanda.

“Tujuan awal kami adalah untuk mengangkat nama penyair Muhammadiyah, karena kami juga berasal dari universitas Muhammadiyah. Selain itu, dengan bekerja sama dengan Sanggar Satria dari UMS, kami juga ingin mendapatkan relasi serta menjaga silaturahmi antar universitas Muhammadiyah.”

Menggelar konser musik puisi di Surabaya, bukan tanpa tantangan. Farid menjelaskan bahwa di Surabaya musikalisasi puisi belum begitu diminati. Musikalisasi puisi hanya dipandang sebagai bagian pembuka suatu acara; drama maupun pertunjukan lainnya.

“Kami tetap optimis. Asalkan tetap berusaha dan memaksimalkan usaha publikasi, pasti bisa sukses. Hasil tidak akan mengkhianati proses. Jadi selama beberapa hari sebelum acara, di sela-sela kesibukan setting tempat dan latihan, kami meluangkan waktu untuk melakukan publikasi dan menjual tiket,” jelas Farid. “Akhirnya kurang lebih 113 penonton hadir di konser kami.”

Pentas kedua akan dilaksanakan pada 18 Desember 2017 mendatang di Taman Budaya Yogyakarta (TBY). Masih dengan formasi pemain musik yang sama, Wisnu Wardana (vokal), Ainun (vokal), Rizki Ramdhani (keyboard), Iqbal Supriansyah (jimbe), Galih Irfananda (bass), dan Riski Ramadhani (gitar).

“Pentas ini menampilkan puisi-puisi karya penyair dan tokoh yang dekat dengan Muhammadiyah serta dipersembahkan oleh kampus Muhammadiyah. Bagi masyarakat, khususnya masyarakat Muhammadiyah, tentu wajib menyaksikan konser musik puisi ini, karena penampilan yang akan kami suguhkan adalah perpaduan antara musik, koreografi, dan puisi. Sebuah penampilan istimewa dari, pada, dan untuk Muhammadiyah,” pungkasnya. (dev)

Persada UAD Adakan Seminar al-Qur’an dan Sains

Dipelopori oleh Iksada (Ikatan Santi Pesantren Mahasiswa KH. Ahmad Dahlan) Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Persada (Pesantren Mahasiswa UAD) sukses menjalankan seminar pada Ahad (26/11/2017). Seminar yang bertema “al-Qur’an dan Sains” ini bertempat di kampus IV UAD, Jalan Ringroad Selatan, Bangutapan, Bantul, dan dihadiri oleh lebih dari 200 peserta. Mereka berasal dari santri dan alumni Persada, mahasiswa Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah (PUTM), serta mahasiswa UAD dari berbagai jurusan.

Agus Purwanto, D.Sc. hadir sebagai pembicara. Ia adalah ulama Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, dosen Fisika di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Teknologi Surabaya (FMIPA ITS), serta penulis buku berjudul Ayat-Ayat Semesta yang membahas tentang al-Qur’an dan Sains.

Thonthowi, M.Ag. selaku direktur Persada mengungkapkan, “Islam adalah akidah, seminar ini diadakan dengan tujuan mencari berkah dari Allah Swt., dan semoga apa yang disampaikan pembicara dapat bermanfaat bagi kita.”

Diadakannya seminar tersebut juga tidak terlepas dari berbagai macam fenomena alam yang terjadi saat ini. Telah diketahui, al-Qur’an memuat berbagai macam ilmu pengetahuan, tidak melulu tentang Islam, melainkan mencakup segala aspek kehidupan, tak terkecuali sains. (AKN)

Lulusan UAD sebagai Young Entrepreneur

Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) menyelenggarakan kuliah umum di auditorium kampus 1 UAD, Jln. Kapas 9, Semaki, Yogyakarta. Acara yang berlangsung Rabu (29/11/2017) ini bertajuk “Urgensi dan Tantangan Perbankan Syariah Menghadapi Era Financial Technology dan Penandatanganan Memorandum of  Understanding (MoU) dengan Bank BPD DIY Syariah”. Hadir sebagai pembicara Supriyanto, S.E.,M.M., Pimpinan Cabang Bank BPD Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Syariah.

Dekan FEB UAD, Dra. Salamatun Asakdiyah, M.Si., dalam sambutannya menjelaskan kegiatan ini dalam rangka meningkatkan keilmuan dalam proses pembelajaran mahasiswa.

“Untuk meningkatkan keilmuan mahasiswa, maka salah satu cara yang dilakukan oleh FEB adalah menyelenggarakan kuliah umum. Kegiatan ini sudah terjadwal pada program tahunan. Hadirnya pakar dan praktisi di bidang ekonomi dan bisnis sebagai pembicara akan menambah pengetahuan mahasiswa.”

Selain kuliah umum, FEB melakukan penandatanganan MoU dengan Bank BPD DIY Syariah. MoU ini untuk meningkatkan kerja sama antara UAD dengan institusi lain. Tujuan utamanya dalam rangka meningkatkan kompetensi lulusan.

“Dengan adanya MoU, mahasiswa bisa magang dan memperoleh pengalaman praktik lapangan. Jadi ada keseimbangan antara kelimuan di kelas dan praktik,” ungkap Salamatun.

Harapannya, dengan menghadirkan pakar dan praktisi serta MoU dengan instansi yang bergerak di bidang keuangan, ekonomi, dan bisnis, mahasiswa FEB tidak canggung dan bisa beradaptasi dengan lingkungan kerja dengan cepat, serta siap bersaing di pasar kerja. Hal yang tidak kalah penting, lulusan UAD cepat diterima di dunia kerja dan memunculkan usaha baru sebagai young entrepreneur. (ard)

 

Ratusan Mahasiswa Ikuti Pelatihan Jurnalistik

Pelatihan jurnalistik dengan tema “Jurnalisme dalam Media Online” yang diselenggarakan oleh LSO Jurnalistik Kreativitas Kita (Kreskit) Pendidikan Sastra dan Bahasa Indonesia (PBSI) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) diikuti ratusan peserta pada Ahad (26/11/2017). Kreskit menghadirkan Agung PW, pimpinan redaksi KRjogja.com, sebagai narasumber pelatihan tersebut, dan Jemi Ilham sebagai moderator.

Anisa Yuni Subekti selaku Pimpinan Umum Kreskit mengaku, alasan diselenggarakannya pelatihan tersebut adalah untuk menjawab wacana digitalisasi media yang sedang terjadi.

“Saya berharap dengan mengikuti pelatihan, teman-teman mahasiswa dapat menyikapi dengan bijak digitalisasi media yang terjadi saat ini. Saya juga berharap teman-teman dapat menyerap ilmu sebanyak-banyaknya dari narasumber yang kami datangkan. Narasumber adalah praktisi yang sangat memahami kondisi media digital.”

Bertempat di auditorium kampus 2 UAD Jalan Pramuka, pelatihan tersebut dibuka oleh Roni Sulistyono, M.Pd., Sekretaris Program Studi (Prodi), mewakili Kepala Prodi yang berhalangan hadir.

“Saya sangat berterima kasih kepada panitia yang telah bekerja keras hingga acara ini dapat terlaksana. Pelatihan ini saya rasa sangat penting diikuti oleh mahasiswa PBSI karena manfaatnya yang sangat besar, khususnya untuk mahasiswa yang mengambil penjurusan jurnalistik. Ilmu yang didapatkan dalam pelatihan ini dapat menjadi nilai tambah mahasiswa sebagai calon pengajar,” pungkasnya. (dev)

 

Keliling Dunia melalui Kuliner

“Acara ini sangat luar biasa. Bisa dibilang semacam paket komplet. Dengan datang ke International Day, kita bisa berkeliling dunia lewat kuliner yang disediakan masing-masing negara. Saya sangat menyayangkan kalau mahasiswa melewatkan acara seperti ini, akan sangat rugi,” ujar Hermanto, S.Pd., M.Pd., ketika ditemui di Festival Internasional yang diselenggarakan oleh Office of International Affair (OIA) Universitas Ahmad Dahlan (UAD). Bertempat di green hall kampus 1 UAD Jalan Kapas, International Day tersebut diselenggarakan pada Sabtu (25/11/2017) mulai pukul 08.00 WIB.

Hermanto, dosen pendamping mahasiswa Thailand dalam matakuliah Kebudayaan Indonesia, mengaku sangat mengapresiasi kegiatan tersebut.

“Saya datang karena ingin melihat dan mencicipi karya-karya kuliner dari mahasiswa asing. Ini kesempatan yang sangat langka bagi mahasiswa Indonesia untuk bisa merasakan cita rasa kuliner mancanegara tanpa keliling dunia. Acara semacam ini sangat perlu dilakukan sebagai upaya pertukaran budaya, saya berharap nantinya International Day ini lebih sering diselenggerakan. Kalau perlu setiap semester,” ujarnya.

Diikuti perwakilan mahasiswa asing dari 13 negara, International Day tersebut menyuguhnya wisata kuliner dari berbagai negara sebagai upaya memperkenalkan budaya masing-masing negara. Untuk mencicipi makanan, pengunjung hanya perlu membeli kupon makanan seharga Rp10.000,00 per 4 kupon. Masing-masing kupon tersebut digunakan untuk bertransaksi di masing-masing stand yang tersedia.

Tidak hanya menyuguhkan kuliner khas negara masing-masing, para mahasiswa asing juga menampilkan kesenian di panggung aksi. Salah satunya mahasiswa asal Timor Leste yang menampilkan tarian Tebe-tebe. Tarian ini mempunyai makna tentang kesatuan, yang dilakukan bersama sambil bergandengan tangan dan menari secara melingkar.

Risen Abdullah, Muhammad Yusuf, dan Nerli, pengunjung International Day dari Program Studi Sastra Indonesia mengaku sangat antusias mengikuti acara tersebut.

“Kami sebenarnya datang karena tugas. Tetapi selain itu, kami juga tertarik dengan acara ini dan benar-benar sangat senang. Dengan harga yang sangat murah, kami bisa berkeliling dunia,” jelas Nerlin.

Ketika ditanya tentang makanan favorit ia menjawab, “Menurut saya yang paling enak tetap Indonesia, tapi yang lain juga enak. Favorit saya butter cake dari Malaysia dan roti selai kurma dari Mesir.” (dev)

Penderita Disleksia Perlu Dipahami

Menurut Hadi Suyono, S.Psi., M.Si., disleksia perlu dipahami agar tidak terjadi kesalahpahaman.

“Seringnya, penderita disleksia dikucilkan dan ejek oleh teman sebayanya,” terangnya saat memberikan kuliah umum di Universitas Sumbawa Sabtu, (25/11/2017).

Di hadapan mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Hadi berpesan agar guru bisa mengenali tanda-tanda penderita disleksia. Menurutnya, penderita ini susah melafalkan dan menulis dengan teratur. Mereka juga susah mengingat kata yang mirip, seperti kata “pupu” dan “buku”.

“Guru perlu memahami itu, selanjutnya memahami cara mengajarnya,” pintanya

Dosen Psikologi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) tersebut mengimbau kepada peserta (calon guru) agar menangani penderita disleksia dengan sabar dan dari hati-ke hati. Disleksia bisa diatasi jika pendamping atau guru serta orang tua memperlakukan mereka sama dengan anak-anak lain, tidak dianggap beda.

“Banyak tokoh besar yang dulu menderita disleksia, seperti Tom Cruise, Albert Einstein, dan lain sebagainya, tapi mereka bisa normal. Karena itu, kita tidak boleh meremehkan seseorang. Sebab, mereka punya keahlian yang tak terduga dan mungkin melebihi kemampuan yang kita miliki,” tukasnya.

 

Forum Komunitas UAD Adakan Talkshow

Forum Komunitas (Forkom) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) mengadakan talkshow interaktif. Kegiatan ini diselenggarakan dari 23 November hingga 1 Desember 2017 di kampus 1, 2, 3, 4, dan 5 UAD dengan tema “Community Wisdom”.

Komunitas yang tergabung dalam Fokom adalah Pelita, Ramada, Gending Bahana, dan TV UAD. Komunitas-komunitas tersebut dibawahi langsung oleh rektorat dan kegiatannya lebih sering di luar kampus. Tujuan diadakannya talkshow interaktif ini ialah untuk mengenalkan forum komunitas kepada seluruh mahasiswa UAD.

Kegiatan menarik tersebut diketuai oleh Rena Rahmatika dari Komunitas Ramada. Rena mengatakan, “Saya bersyukur dengan adanya roadshow ini karena lebih dekat dengan mahasiswa, sehingga mahasiswa yang tertarik dengan salah satu dari keempat komunitas bisa lebih intensif untuk bertanya dengan konsep talkshow interaktif.”