Potret Realis dengan Ending Tak Terduga Kumpulan Cerpen Bedak dalam Pasir

“Saya digiring ke barat tapi sebenarnya tujuan penulis ke timur,” terang Juanda saat membedah kumpulan cerpen Bedak dalam Pasir di Universitas Sumbawa (UNSA) Sabtu (25/11/2017).

Dalam kumpulan cerpen tersebut, kata Juanda yang merupakan Kaprodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) UNSA, Sule banyak berbicara keresahan masyarakat sekitar. Seperti cerpen “Ramuan Mimpi”, “Wajah Lain Supriana”, “Ayat-Ayat Rotan”, dan beberapa cerpen lainnya.

“Dia menghidupkan cerita melalui karakter tokoh dan kecemasan yang terus bergerak. Akrobatik alur cerita dengan teknik logika terbalik membuat pembaca disuguhkan hal tak terduga di ending.”

Sule sebagai penulis ingin membiarkan pembaca menentukan arah akhir cerita dengan teknik ending mengantung. Dia mempermainkan pembaca lewat ending dan karakter emosi tokoh di setiap cerpennya.

Imaji yang dibangun di dalam kumpulan cerpen Bedak dalam Pasir disajikan dengan bahasa yang familiar. Jadi pembaca sangat leluasa membacanya.

Buku yang berisi sebelas cerpen ini merupakan karya perdana Sule Subaweh. “Rata-rata cerpen dalam kumpulan sudah dimuat di media cetak. Kumpulan cerpen sudah dipersiapkan sejak 2014,” kata Sule.

Kumpulan Cerpen Bedak dalam Pasir Launching di Universitas Sumbawa

Kumpulan cerpen Sule Subaweh Bedak dalam Pasir perdana di-launching di Universitas Sumbawa (UNSA). Menurut Sule, launching di Sumbawa adalah upaya memperkenalkan karya sastra ke daerah yang susah akses.

“Sumbawa bagi saya adalah tempat yang cocok untuk memperkenalkan karya saya sekaligus memberikan suntikan untuk menulis melalui cerita proses kreatif saya. Saat bedah buku, antusias mereka sangat bagus dan banyak kreativitas yang menumpuk di kepala mereka,” kata Sule saat ditemui di UNSA Sabtu, (25/11/2017).

“Selain berbagi pengalaman dunia menulis, saya juga berbagi pengalaman organisasi di bidang teater, musikalisasi puisi, dan jurnalistik. Kebetulan pesertanya adalah mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI). Jadi komunikasinya lebih mudah, apa lagi saya juga alumni PBSI di Univeristas Ahmad Dahlan (UAD),” lanjutnya.

Hamsah Gunawan selaku ketua panitia acara dalam sambutannya mengatakan, bedah buku ini sangat jarang dilakukan. Adanya kumpulan cerpen Sule Subaweh akan mengangkat semangat mahasiswa UNSA.

Hamsah yang juga Ketua BEM FKIP menambahkan, Bedak dalam Pasir isinya mantap, banyak menggunakan bahasa kiasan sehingga mampu menarik minat baca, dan seolah-olah pembaca yang menjalani setiap peran-peran yang terdapat dalam cerpennya.

“Menumbuhkan dan meningkatkan literasi di Sumbawa ini, khususnya di UNSA, itulah tujuan acara ini. Minat baca dan melek literasi di Indonesia masih kurang. Dengan adanya bedah buku, maka akan menggugah mahasiswa untuk menulis,” kata Juanda selaku Kaprodi PBSI UNSA.

Juanda yang menjadi pemantik kumpulan cerpen Bedak dalam Pasir menambahkan, melalui tokoh yang berkarakter kuat, alur cerita menjadi hidup.

“Dia (Sule Subaweh) menghidupkan cerita melalui karakter tokoh dan kecemasan yang terus bergerak. Akrobatik alur cerita dengan teknik logika terbalik membuat pembaca disuguhkan hal tak terduga di akhir cerita,” terangnya.

Doktor UAD Berikan Motivasi di SMA 3 Sumbawa

Dr. Hadi Suyono., S.Psi., M.Si. memberikan motivasi kepada 300 lebih siswa kelas 3 SMA 3 Sumbawa, Jumat (24/11/2017).

Kehadiran dosen Psikologi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) ini disambut baik oleh pihak sekolah.

“Kami sangat senang. Ada seorang doktor menyempatkan diri ke Sumbawa untuk memberikan motivasi kepada generasi bangsa ini,” kata Syamsu Ardiansyah, M.Pd., Kepala Sekolah SMA 3 Sumbawa.

Melalui program Ekspedisi Pendidik Indonesia (EPI), Hadi Suyono ingin membagi pengalaman dan memberikan arahan kepada calon pemimpin bangsa.

“Saya punya energi tambahan saat melihat semangat siswa di sini. Mereka saya umpamakan seperti kayu kering yang hanya butuh sedikit dipantik. Mereka cepat terbakar. Semangatnya meluap-luap,” terangnya setelah memberikan materi tentang Sang Pembelajar Sejati.

Menurut dosen yang suka terjun di lapangan untuk melihat psikologi persoalan masyarakat ini, siswa SMA 3 sangat antusias dan terbuka. Terbukti dari respons mereka saat ada sesi tanya jawab, tidak perlu menunggu lama mereka langsung mengacungkan jari.

Pembina OSIS, Syamsul, mengatakan bahwa siswa sangat senang saat pemateri menjelaskan tentang semangat berjuang untuk meraih sukses. Mereka kompak meneriakkan kata sukses saat dipandu oleh pemateri.

“Kami berharap siswa kami bisa mengikuti jejak Doktor Hadi. Dan meniru perjuangannya meraih mimpi,” tukasnya.

Selain di SMA 3 Sumbawa, Hadi Suyono juga memberikan kuliah umum di Universitas Sumbawa bersama Sule Subaweh yang juga membedah kumpulan cerpennya, Bedak dalam Pasir.

Mahasiswa UAD Ciptakan REDER VIRED

Tim Kepanitiaan Progam Kreatifitas Mahasiswa Perguruan Tinggi Muhamadiyah (PKM-PTM) se-Indonesia yang diselenggarakan di Universitas Mataram Lombok,  menyetujui proposal mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta yang tergabung dalam kelompok Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC). Mahasiswa tersebut Tofik Nurochman, Mohammad Iqbalul Faiq Hatta, Ibnu Atma Kusnadi (Teknik Elektro). Sebagai Dosen pembimbing pendamping penelitian adalah Son Ali Akbar S.T.,M.Eng.

 

Ketiga mahasiswa tersebut mencoba membuat sebuah alat yang bisa difungsikan untuk membantu tunanetra bermobilitas agar tidak tersesat. Alat tersebut diberi nama “Track Recorder To Determine Spot Coordinate  Points For The Visually Impaired” (REDER VIRED). Menurut ketua tim, Tofik, gagasan untuk membuat REDER VIRED dilatarbelakangi oleh banyaknya tunanetra yang tersesat ketika melakukan perjalanan.

 

“Tunanetra merupakan seseorang yang memiliki hambatan dalam pengelihatan atau tidak berfungsinya indra penglihatan. Para penyandang tunanetra biasanya akan susah dalam mengenali lingkungan serta kesulitan dalam melakukan berbagai aktifitas dalam keseharianya. Salah satu masalah yang sering dihadapi para penyandang tunanetra yaitu proses mobilitas. Mereka susah dalam mengenali jalan, mengenali fasilitas-fasilitas umum, dan banyak yang tersesat atau tidak bisa mengenali jalan pulang ketika sudah melakukan perjalanan,” jelas Tofik.

 

Jika dibiarkan, hal ini akan menyulitkan tunanetra dalam beraktifitas yang akan berakibat pada penurunan produktivitas diri. Minimnya pendampingan dan fasilitas-fasilitas khusus bagi para penyandang  tunanetra dapat menyebabkan hilangnya kepercayaan diri mereka untuk mobilitas dan menjalani kehidupanya. Banyaknya perlakuan diskriminatif terhadap penyandang tunanetra membuat mereka tidak bisa bersosialisasi dengan baik  dan semakin terkucilkan dalam kehidupan sosial.

 

“Kesetaraan Sosial yang menjadi target tim dan kawan-kawan dalam menciptakan REDER VIRED. Dengan adanya alat ini diharapkan tidak ada kesengjangan sosial, diskriminasi para penyandang tunanetra dilingkungan sekitar.”

 

REDER VIRED merupakan suatu teknologi tepat guna  yang dapat membantu para penyandang tunanetra untuk melakukan perjalanan agar tidak tersesat. Teknologi yang dapat memberikan informasi lokasi berupa data GPS koordinat yang dikirim dalam bentuk SMS ke saudara atau kerabat melalui smartphone. Data GPS yang dikirim dapat langsung dicari pada aplikasi google map dan langsung dapat diketahui lokasinya.  Sehingga dengan adanya teknologi tersebut keluarga atau kerabat para penyandang tunanetra tidak merasa kwatir jika tunanetra tersebut melakukan perjalanan, karena dapat mengetahui keberadaanya melalui smartphone dan dapat langsung menjemput ketika tersesat melalui data GPS yang diterima dengan menggunakan penunjuk arah pada aplikasi google map. (doc)

Tim Debat UAD Terbaik Kedua Nasional

Tim Debating Community (DeCo) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) raih juara 2 dalam University English Debate Competition 2017 tingkat nasional yang diselenggarakan Universitas Muhammadiyah Ponorogo pada 28-29 Oktober 2017 lalu. Tim Debat UAD yang terdiri atas Kristianto, Galih Tirto Aji dan Maulidin berhasil mengalahkan 23 tim yang berasal dari seluruh Indonesia dan meraih juara kedua.

Ditemui di aula kampus 2 UAD Jalan Pramuka, Kristanto mengaku persiapan yang dilakukan tidak ada yang istimewa karena anggota DeCO sudah terbiasa berlatih walaupun tidak ada perlombaan.

“Kami (anggota DeCO) sudah terbiasa berlatih setiap malam kecuali malam minggu, ada atau tidak ada lomba. Semua anggota wajib datang setiap malam untuk latihan, apalagi yang sudah terpilih ikut lomba. Kalau ada anggota yang tidak datang dan tidak komitmen, pasti langsung diganti. Di DeCo yang penting itu komitmen, pintar itu urusan belakangan,” jelas mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (Prodi PBI) tersebut.

Mosi debat yang bervariasi membuat Kristanto, Galih, dan Maulidin mempelajari berbagai macam topik seperti feminist movement, ekonomi, pengetahuan internasional, hingga teknologi.

“Halangan terbesar yang kami hadapi mungkin transportasi. Karena miskomunikasi, kami menginap di hotel yang cukup jauh dari lokasi lomba dan di Ponorogo belum ada transportasi online jadi hal ini lumayan mengganggu. Belum lagi  cuaca yang kurang mendukung. Semua anggota tim sampai panas dalam karena cuaca dan debu di perjalanan,” jelas Krisianto.

Maulidin, anggota tim termuda, membuktikan penjelasan Kris, “Suara saya sampai serak,” ujarnya dengan suara parau. Mahasiswa semester satu tersebut menjelaskan dengan suara parau tentang pengalaman yang ia dapatkan selama di Ponorogo. “Ini pengalaman luar biasa. Pertama kalinya saya masuk final. This is the greatest achievement I’ve got so far, jadi saya senang sekali. Saya belajar banyak hal dari tim universitas lain selama berlomba, apalagi skill tim-tim itu berbeda satu sama lain. Saya jadi lebih terpacu untuk belajar lagi,” jelas Maulidin dengan penuh semangat. Pemuda asal Bogor tersebut juga menjelaskan bahwa ia akan terus berusaha untuk memenuhi janji pada sahabatnya semasa SMA dulu. Ia berjanji bahwa ia dan sahabat-sahabatnya akan bertemu dan bertanding di National University Debating Championship (NUDC).

“Banyak lawan kami di Ponorogo kemarin yang sudah pernah ikut NUDC, jadi pengalaman lomba kemarin itu sangat luar biasa. Karena kami biasanya hanya sparing dengan senior, kemarin kami bisa bertanding dengan lawan yang sangat bertalenta dan cerdas. Pengalaman tersebut berkesan sekali untuk kami,” jelas Galih, mahasiswa semester 3 Prodi PBI.

Menurut Galih, banyak hal positif yang ia dapatkan dalam dari dunia debat. “Kita bisa lebih kritis. Memikirkan segala sesuatu dari dua sisi. Selain itu, speaking skill bahasa Inggris kita bisa lebih terasah, karena setiap latihan pasti harus pakai bahasa Inggris dan harus mencapai tujuh menit dua puluh detik. Dan yang paling penting pengetahuan kita bisa lebih luas karena setiap malam banyak membahas isu-isu terkini, baik internasional maupun lokal,” pungkasnya. (dev)

Menggali Sejarah, Mewujudkan Indonesia Madani

Prof. Dr. M. Abdul Karim, M.A., M.A. menjadi pembicara dalam seminar nasional rapat kerja nasional Forum Eksekutif Mahasiswa Fakultas Agama Islam Seluruh Indonesia (FEM FAISI) pada Senin (20/11/2017), bertempat di aula Islamic Center UAD.

Seminar nasional kali ini mengambil tema “Sejarah Perjuangan Muslim Indonesia yang Ter-Dilupakan”. Tema ini berhubungan dengan tema Rakernas, yakni “Meneguhkan Gerakan Dakwah Mahasiswa FAI melalui Sinergitas FEM FAISI menuju Indonesia Madani”.

Telah diketahui, merdekanya Indonesia tidak terlepas dari perjuangan umat muslim melawan penjajah. Banyak pertempuran yang melibatkan kaum muslim, seperti Perang Diponegoro, pertempuran Sultan Ageng Tirtayasa di Banten, Perang Padri, dan lain sebagainya.

Dalam seminar nasional yang dimoderatori oleh Arif Rahman, M.Pd. (dosen PAI UAD) ini, Abdul Karim menerangkan tentang perjuangan umat Islam dalam memadamkan kolonialisme.

“Muslim Indonesia terdahulu merupakan kaum yang taat menjalankan agama. Tidak hanya berjuang untuk membebaskan tanah airnya semata, tetapi juga mempertahankan akidah dan keyakinan imannya. Mereka telah menanamkan dan menggelorakan percik-percik pembebasan kaum muslimim yang pada akhirnya mempersatukan persepsi masyarakat se-Nusantara untuk bersikap resisten terhadap penjajahan di mana pun mereka berada,” ucap Guru Besar UIN Sunan Kalijaga dan Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, tersebut.

Peserta yang berjumlah lebih dari 100 orang dan berasal dari 17 universitas seluruh Indonesia, terlihat sangat menikmati acara ini. Apalagi, hal tersebut juga berkenaan dengan studi yang ditempuh peserta di perguruan tinggi masing-masing.

Diyan Fathurrahman, Gubernur BEM FAI UAD sekaligus menjabat sebagai Sekretaris Umum FEM FAISI berharap penuh pada kegiatan Rakernas ini.

“Semoga seluruh anggota FEM FAISI dapat merawat, memperjuangkan, serta mendukung berjalannya forum ini. Terlebih ini adalah forum yang masih baru, sudah seharusnya kita memperjuangkan dan memperbaikinya sampai terwujud FEM FAISI yang seutuhnya, seperti harapan kita semua.”

Diyan menambahkan, “Terselenggaranya Rakernas di UAD ini juga berkat bantuan dari dekanat serta UAD. Kami sangat dimudahkan dalam hal birokrasi, administrasi, dan perizinan. Dari konsultasi, saran, dan bantuan semua pihak UAD inilah kegiatan Rakernas dapat diadakan.” (AKN)

Mahasiswa Asing Belajar Membatik

Batik merupakan salah satu warisan kebudayaan Indonesia yang diwariskan secara turun temurun. Di kota Yogyakarta, batik menjadi salah satu ikon istimewa. Ada cukup banyak produsen batik, mulai dari lukis, cap, maupun printing. Di Universitas Ahmad Dahlan (UAD), batik menjadi materi kuliah budaya Indonesia bagi mahasiswa asing.

Rabu (22/11/2017), 14 mahasiswa asing UAD dari beberapa negara belajar membatik tulis di Batik Kelik. Mereka berasal dari Mesir, Tiongkok, Vietnam, Tunisia, dan Thailand. Robi, pemilik Batik Kelik menilai antusias dari mahasiswa asing UAD sangat luar biasa.

“Cukup banyak turis yang ke sini, tapi mahasiswa asing UAD berbeda. Mereka terlihat bersemangat dan mau belajar sungguh-sungguh. Jadi tidak sekadar ingin mencoba-coba saja,” ujarnya.

Sementara Hermanto, M.Hum., dosen pengampu matakuliah kudaya Indonesia, menerangkan, matakuliah ini untuk mengenalkan bahwa Indonesia memiliki beraneka ragam produk kebudayaan. Batik salah satunya.

“Membatik merupakan matakuliah praktik. Sebelumnya, kami sudah mengajarkan teori keilmuan tentang batik. Ini adalah matakuliah yang sangat ditunggu-tunggu. Semangat dan antusias mereka terlihat saat sedang membatik.”

Adam, mahasiswa yang berasal dari Mesir merasa membatik sangat susah. Dibutuhkan fokus dan ketenangan.

“Susah, karena harus fokus dengan canting dan garis-garisnya. Tidak boleh bergetar. Kami senang bisa belajar membatik. Kalau boleh, saya ingin setiap hari membatik biar bisa menjadi ahli batik,” terangnya.

Rencananya, karya para mahasiswa asing ini akan dipajang di bazar yang diselenggarakan Kantor Urusan Internasional (KUI) UAD 25 November mendatang di green hall kampus 1, Jln. Kapas 9, Semaki, Yogyakarta. (ard)

Kemenkeu Sosialisasi APBN 2017 di UAD

Kementrian Keuangan (Kemenkeu) Republik Indonesia mengadakan seminar sosialisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2017 di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta, Selasa (21/11/2017). Acara yang diselenggarakan di kampus 1 UAD, Jln. Kapas 9, Semaki, ini menghadirkan 3 pembicara.

Mereka adalah Didik Kusnaini Kepala Subdirektorat Penyusunan Anggaran Belanja Negara 1, Ika Ristianingsih Kepala Seksi Evaluasi Dampak Ekonomi Makro Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, dan Kurnia Chairi Kepala Subdirektorat Analisis Ekonomi Makro dan Pendapatan Negara. Acara dimoderatori oleh Dini Yuniarti, Ketua Program Studi Ekonomi Pembangunan.

Seminar ini terselenggara atas kerja sama Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UAD dan Kemenkeu RI, Direktorat Jenderal Anggaran, Direktorat Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Tema yang diangkat “Budget Goes to Campus UAD”. Materi yang disampaikan mengenai penyusunan dan peran strategis APBN dalam perekonomian nasional, reformasi keuangan negara, kebijakan APBN 2017.

Dr. Kasiyarno, M.Hum., Rektor UAD dalam sambutannya mengucapkan terima kasih atas kepercayaan Kemenkeu RI menyelenggarakan seminar sosialisasi APBN yang diadakan hanya tiga kali dalam satu tahun ini. “Sebuah kepercayaan UAD menjadi tuan rumah seminar oleh Kemenkeu RI. Tidak semua perguruan tinggi mendapat kesempatan ini.”

Ia menambahkan, perguruan tinggi harus mengikuti tren perkembangan teknologi yang semakin pesat.

“Saat ini kita memasuki era disrupsi, era yang diartikan sebagai masa bermunculannya inovasi-inovasi aplikasi teknologi informasi dan komunikasi. Jika dikaitkan dengan Prodi Ekonomi Pembangunan, saya kira ada opsi prodi ini berganti menjadi ilmu ekonomi. Pertimbangannya, ilmu ekonomi mempelajari lebih banyak hal yang mencakup hampir semua lini ekonomi.” (ard)

Pelatihan Jurnalistik dalam Media Online

LSO Jurnalistik Kreativitas Kita (Kreskit) Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) akan menyelenggarakan pelatihan jurnalistik dengan tema “Jurnalistik dalam Media Online”. Riska Ayu Rosalina selaku ketua panitia menjelaskan bahwa pergeseran berbagai bidang industri sedang terjadi sebagai dampak perkembangan teknologi digital yang sangat cepat. Jurnalisme konvensional berupa media cetak tidak lagi berperan besar di masyarakat, karena melalui teknologi digital saat ini, berbagai informasi dapat diakses secara mudah dan cepat melalui media sosial. Maka, pelatihan jurnalistik dengan tema demikian dirasa sangat perlu. Hal inilah yang melatarbelakangi pemilihan Agung PW, Pemimpin Redaksi KRJogja.com, sebagai pemateri pelatihan.

“Pelatihan ini nantinya dibuat dua sesi, yaitu sesi materi dan praktik. Harapannya peserta tidak hanya memahami jurnalistik dalam media online, ciri-ciri serta kode etiknya, tetapi juga cara penulisan dan melakukan praktik langsung menulis di media online,” terangnya.

Pendaftaran dibuka hingga 25 November 2017 dengan biaya registrasi sebesar Rp30.000,00 di aula kampus 2 UAD Jalan Pramuka. Sementara itu, pelatihan akan dilaksanakan pada 26 November 2017 di auditorium kampus 2 UAD pukul 08.00 hingga selesai. Tidak terbatas pada mahasiswa PBSI, pelatihan ini dibuka untuk umum. Narahubung Anisa (087834129768).

UAD Menjadi Tuan Rumah Rakernas FEM FAISI 2017

Forum Eksekutif Mahasiswa Fakultas Agama Islam Seluruh Indonesia (FEM FAISI) merupakan forum yang menampung Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FAI seluruh Indonesia. FEM FAISI sukses adakan Musyawarah Nasional (Munas) perdana pada Juli lalu di Universitas Siliwangi, Tasikmalaya, Jawa Barat.

Universitas Ahmad Dahlan (UAD) selaku universitas Islam yang memiliki Fakultas Agama Islam, turut serta menjadi anggota dalam forum tersebut. Sebagai tindak lanjut dari Munas, FEM FAISI menyelenggarakan Rakernas (Rapat Kerja Nasional) dengan menunjuk FAI UAD sebagai tuan rumah. Rakernas ini diadakan selama tiga hari, yakni Senin-Rabu (20-22/11/2017) dengan tema “Meneguhkan Gerakan Dakwah Mahasiswa FAI melalui Sinergitas FEM FAISI menuju Indonesia Madani”.

Sebanyak 17 universitas dari seluruh Indonesia turut memberi sumbangsih dalam penyelenggaraan rakernas ini, di antaranya Universitas Riau, Universitas Indonesia Timur-Makassar, Universitas Pare-Pare, Universitas Majalengka, Universitas Siliwangi, Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Universitas Muhammadiyah Malang, dan lain-lain.

Dr. Abdul Fadlil, M.T. selaku Wakil Rektor III UAD berkesempatan membuka kegiatan Rakernas di aula Islamic Center UAD, Jalan Ringroad Selatan, DIY pada Senin (20/11/2017).

Terdapat beberapa rangkaian acara dalam penyelenggaraan Rakernas ini, di antaranya seminar nasional, temu ilmiah nasional, pembekalan Rakernas, Rakernas, dan study tour mengunjungi pariwisata di DIY.

Dekan FAI UAD, Drs. Parjiman, M.Ag., dalam sambutannya mengatakan, “Di Jogja lah Muhammadiyah lahir. Insya Allah semua peserta akan diislamkan secara baik-baik, karena sepatutnya kita harus mencoba lemah-lembut terhadap semua umat, sesuai dengan perintah dalam kitab suci al-Qur’an.” (AKN)