Banyak Pencari Kerja Dambakan Stress-free Job

Salah satu perusahaan partisipan Job Fair yang diselenggarakan Universitas Ahmad Dahlan (UAD) pada Selasa (14/11/2017) adalah Bank Mega. Melalui Anita, staf marketing, Bank Mega membuka beberapa lowongan pada Job Fair tersebut, salah satunya adalah Retail Funding Officer untuk penempatan di Yogyakarta, Klaten, dan Sri Wedari. Selain posisi tersebut, Bank Mega juga membuka lowongan untuk posisi Marketing Kartu Kredit.

“Sekarang kalau untuk dunia perbankan, kami lebih cenderung mencari sales person, ya. Tetapi, rata-rata pencari kerja memandang bidang sales itu kurang menarik. Padahal di bidang itu, tempat kita menempa mental. Dari bidang apa pun kalau memiliki nyawanya di sales, mau bekerja di bagian apa pun pasti bisa. Tapi, fresh graduate rata-rata, kalau orang Jawa bilang sudah gila duluan, karena selalu masalah target. Saya berharap di Job Fair hari ini, kami bisa bertemu SDM yang berkualifikasi, dalam arti siap bekerja dan siap belajar. Karena biar bagaimanapun, memasuki dunia kerja tetap harus belajar lagi dan lagi,” jelas Anita.

Salah satu pencari kerja, Resno Watizakiyah atau yang biasa disapa Kiki, menjelaskan antusiasnya mengikuti Job Fair tersebut. “Saya baru saja lulus dari Pendidikan Matematika, belum sempat wisuda. Saya berharap bisa mendapatkan pekerjaan dari Job Fair ini,” jelasnya.

Ketika ditanya posisi atau jenis pekerjaan apa yang diinginkan, Kiki menjawab, “Saat ini ingin mencoba ke customer service yang mungkin bebannya tidak begitu banyak dan tidak bertarget, jadi tidak banyak stres,” ujarnya.

Hampir 400 pencari kerja memadati auditorium kampus 1 UAD. Seluruhnya sangat antusias berpartisipasi dalam Job Fair Bursa Kerja Yogyakarta yang diselenggarakan UAD. Diikuti berbagai perusahaan terkemuka, Job Fair tersebut dibuka oleh Wakil Rektor Bidang Pengembangan Kemahasiswaan dan Pemberdayaan Alumni, Dr. Abdul Fadlil, M.T.

Bekerja sama dengan Garuda Organizer, UAD mendatangkan 16 perusahaan terkemuka seperti Bank Danamon, Bank Mega, BRI Life, Bina Artha, Kreditplus, PT Saba Infomedika, Indomobil dan lain sebagainya. Job Fair tersebut merupakan upaya UAD untuk memberikan peluang kepada mahasiswa UAD yang tengah mencari kerja.

“Karena itu, kami adakan Job Fair setelah wisuda. Diharapkan mahasiswa UAD langsung mendapatkan kerja,” ujar Fadlil dalam sambutannya. (dev)

 

Tips Menulis Opini Menurut Redaktur KR

Opini atau artikel adalah karya jurnalistik yang berisi pendapat penulis tentang sesuatu masalah. Opini merupakan pendapat pribadi berdasar fakta atau ungkapan pemikiran atau yang lain. Bentuknya dapat berupa artikel, kolom, tajuk rencana, surat pembaca, maupun pojok.

“Menulis merupakan cara mengungkapkan pikiran yang dilakukan dengan tatanan. Tatanan utama dalam  menulis opini disebut dengan sudut pandang. Di sini, harus diakui setiap orang memiliki sudut pandang masing-masing yang unik, khas. Keunikan inilah alat untuk membangun sebuah opini,” terang Dra. Fadmi Sustiwi, Redaktur Opini Kedaulatan Rakyat (KR) ketika menjadi pembicara pada acara temu redaktur dan dosen Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Rabu (1/11/2017).

Fadmi menjelaskan ada tiga hal yang memengaruhi sudut pandang. Ilmu pengetahuan, keyakinan, dan pengalaman. Menurutnya, di dalam menulis opini harus menggunakan ruang lingkup yang sempit dan dibarengi dengan argumen kuat.

“Untuk menunjang argumen, diperlukan data dan fakta yang memadai. Argumen yang kuat perlu mengakar pada sumber yang kuat. Selain itu, tulisan harus sesuai dengan keadaan terkini (kekinian), perhatikan juga waktu pengiriman dan kerapian tulisan.”

Ia mengimbau, jika tulisan belum bisa menembus surat kabar, jangan putus asa. Gagal dalam pemuatan berarti masih ada yang harus diperbaiki. “Kebanyakan tulisan kurang kontekstual, kurang menarik, banyak salah tulis, dan telat mengirim. Yang paling sering tidak memenuhi persyaratan panjang pendek,” tukasnya. (ard/doc)

 

Selesaikan Skripsi Sambil Merawat Ibu yang Tengah Sakit, Wisudawan Ini Raih IPK Tertinggi

Sidang Senat Terbuka Wisuda Sarjana dan Pascasarjana Universitas Ahmad Dahlan (UAD) pada Sabtu (11/11/2017) lalu berlangsung haru. Novie Arista awalnya tidak menyangka perjuangannya dapat berbuah manis. Wisudawan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (Prodi PGSD) tersebut berhasil meraih IPK tertinggi pertama, 3.93.

Diwawancarai dalam acara wisuda, Sudiyono, ayah dari Novie mengaku bahagia dan sangat bangga pada putri bungsunya tersebut.

“Sejak kecil, kami biasakan belajar dan selalu diawasi. Sekarang pun, walaupun sudah dewasa tetap kami pantau dan ingatkan untuk jangan lupa belajar. Karena sudah dibiasakan hingga dewasa, Novie selalu tekun belajar,” jelasnya.

Sebelumnya, ditemui di tempat lain, Novie mengaku momen paling tidak terlupakan adalah ketika kesehatan kedua orang tuanya tiba-tiba menurun dan harus dirawat di rumah sakit. Sedangkan dirinya sedang berusaha menyelesaikan skripsi.

“Waktu itu menjelang lebaran, kesehatan Ibu tiba-tiba drop. Saya ingat betul bagaimana rasanya lebaran di rumah sakit, merawat Ibu sambil mengerjakan skripsi. Beberapa minggu kemudian, disusul Bapak juga masuk rumah sakit,” jelasnya.

Novie mengaku, terkadang ia sampai tidak fokus berkuliah karena mengkhawatirkan kesehatan kedua orang tuanya. Ia harus benar-benar membagi waktu antara kuliah dan merawat Ibu yang rutin harus menjalani pemeriksaan di rumah sakit,

Ibunda Novie, Tri, dengan rasa haru dan bangga pada putrinya berpesan, “Semoga ilmu yang dimiliki dapat diamalkan dan Novie dapat segera bekerja.”

Novie yang duduk di barisan paling depan tersenyum haru. Sudah saatnya ia mengabdi, meneruskan perjuangan ayahnya sebagai seorang guru. (dev)

Antusias Luar Biasa Peserta KUNTUM dan Kuliah Umum

 

Sabtu, 11 November 2017 bertepatan dengan 22 Safar 1439 H, telah diselenggarakan opening ceremony (pembukaan) Kuliah Intensif Kader Tarjih Muhammadiyah (KUNTUM) dan public lecture (kuliah umum) bersama Prof. Dr. Syamsul Anwar, M.A. di Pusat Tarjih aula Masjid Islamic Center UAD Yogyakarta. Jumlah peserta melebihi ekspektasi panitia, yang awalnya hanya diperkirakan sekitar 30 sampai 50 peserta yang mendaftar. Namun di luar dugaan, jumlah pendaftar lebih dari 100 bahkan hampir 200. Peserta yang mendaftar tidak hanya dari Yogyakarta, banyak juga yang dari luar Yogyakarta, seperti Banten, Depok, Tulungagung, Sragen, dan banyak lagi. Bahkan, yang paling jauh adalah peserta dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Setelah melakukan registrasi ulang, peserta kemudian diarahkan untuk mengikuti placement test di lantai dua Masjid Islamic Center. Materi yang diujikan adalah Ulumul Qur’an, Ulumul Hadits, dan bahasa Arab. Ujian ini bermaksud untuk memetakan, mana peserta yang masih dasar dan mana yang sudah tingkat lanjut. Sehingga, mereka yang masih dasar akan mengikuti kuliah intensif dasar, sedangkan yang tingkat lanjut akan mengikuti kuliah intensif dengan materi yang sudah tingkat lanjut.

Kepala Pusat Tarjih, Rahmadi Wibowo Suwarno, Lc., M.A., M. Hum. dalam sambutanya menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada seluruh peserta atas partisipasi dan juga ghirah (semangat) menuntut ilmu untuk menjadi para kader Tarjih Muhammadiyah.

Pada sesi kuliah umum, acara dimoderatori oleh Ayub, S.Pd.I., M.A. Syamsul Anwar menyampaikan wawasan tantang Manhaj Tarjih Muhammadiyah, dan banyak membahas cara atau metode Muhammadiyah—dalam hal ini Majelis Tarjih dan Tajdid, dalam menentukan suatu hukum dalam hal akidah maupun muamalah.  Di sesi penutupan acara, Syamsul mengimbau kepada seluruh peserta untuk tetap menjaga semangat menuntut ilmu dari awal pembukaan kuliah sampai akhir nanti.

Perlunya Pelayanan Peduli Kesehatan Seksual pada Remaja

Melalui disertasinya yang berjudul Model Pemberdayaan Masyarakat melalui Pelayanan Kesehatan Seksual Remaja, Dr. Sitti Nur Djannah, M.Kes. berhasil meraih gelar doktor di Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta. Dalam disertasi tersebut, ia menyampaikan permasalahan kesehatan remaja pada beberapa tahun terakhir ini yakni terkait dengan masalah perilaku seks bebas dan kekerasan oleh para remaja. Penelitian yang mengambil kasus pada kelompok remaja di sebuah paguyuban seni jathilan tersebut menghasilkan sebuah model alternatif dalam memberdayakan masyarakat.

“Model ini diharapkan mampu mengurangi sekaligus mencegah tindakan menyimpang yang selama ini dilakukan oleh sekelompok remaja,” ucap Sitti yang juga merupakan doktor kelima Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) ini.

Modifikasi  seni jathilan dilakukan untuk memperoleh model pemberdayaan dalam mengubah perilaku negatif pada sekelompok remaja di paguyuban tersebut.

“Dengan memasukkan unsur kesehatan reproduksi remaja dalam seni jathilan, seperti memasukkan cerita tentang kesehatan atau bermain peran, dapat meningkatkan pengetahuan para anggota paguyuban,” terangnya.

Dengan model itu, maka secara efektif dapat mengubah perilaku seksual remaja yang selama ini cenderung berperilaku negatif. Selain melakukan modifikasi, juga diperlukan penguatan dukungan baik dari pemerintah, tokoh masyarakat, orang tua, maupun lembaga lain yang terkait. Adanya dukungan ini dapat memotivasi para remaja untuk berperilaku lebih baik lagi sebelumnya. 

“Orang tua memiliki peran untuk membuat para remaja berperilaku seksual secara baik, sehingga perlu ada bimbingan serta arahan agar para remaja bertindak ke arah positif. Peran pemerintah juga sangat diperlukan dalam hal membuat serta mengawal kebijakan untuk mengurangi perilaku seks bebas serta kekerasan yang dilakukan oleh para remaja. Dengan model pemberdayaan yang seperti ini, maka dapat mencegah serta mengendalikan perilaku menyimpang bagi para remaja,” pungkasnya.

UAD Targetkan 100 Doktor dan Menambah Guru Besar

“Terima kasih kepada semua elemen yang telah mendukung atas pencapaian akreditasi A UAD. Apresiasi kami berikan terhadap kerja keras Bapak Ibu semua dan mahasiswa.”

Menurut keterangan Rektor Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Dr. Kasiyarno, M.Hum. saat memberi sambutan pada pengajian syukuran di Masjid Islamic Center kampus 4 Selasa (14/11/2017), sudah sejak 2015 UAD mencita-citakan memperoleh akreditasi A. Selama ini kendala utama yang dihadapi terkait sumber daya manusia (SDM).

Selain itu, kendala lain adalah masih minimnya akreditasi A program studi yang ada. “Dulu akreditasi A program studi masih sedikit. Sampai 2017 ini, satu per satu mendapat A. Total sekarang sekitar 13 yang sudah terakreditasi A.”

Pencapaian akreditasi A yang didapat memicu UAD untuk terus berbenah. Salah satunya perbaikan SDM. Dalam kurun waktu 4 tahun sebelum reakreditasi, UAD mencanangkan program 100 doktor dan penambahan guru besar. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas UAD untuk bersaing di kancah lokal maupun internasional.

Sebagai salah satu Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM), UAD juga akan mengembangkan badan usaha, khususnya di ranah pariwisata. Menurut Kasiyarno, langkah yang diambil UAD ini untuk mendukung kemajuan pariwisata di Yogyakarta.

Sementara, pendamping Akreditasi Institusi Perguruan Tinggi (AIPT) UAD, Prof. Achmad Nurmandi dari Majlis Litbang Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, menyarankan agar UAD berlari lebih kencang. Pimpinan dan dosen juga harus terus belajar. Ia berpesan UAD membenahi standar mutu internasionalnya dan meningkatkan kualitas agar diakui secara internasional.

Di sisi lain, Ketua PP Muhammadiyah, Dr. Haedar Nashir mengharapkan UAD memiliki komitmen untuk mencerdaskan kehidupan umat, bangsa dan negara, serta sebagai motor penggerak Muhammadiyah.

UAD Selenggarakan Job Fair ke-10

Berlangsung di auditorium kampus 1 Universitas Ahmad Dahlan (UAD), acara Job Fair yang sudah rutin diselenggarakan ini dibuka oleh Wakil Rektor III, Dr. Fadlil, M.T. “Job Fair ini sudah sepuluh kali kami selenggarakan. Kami bekerja sama dengan Garuda Organizer,” terangnya

Ada 16 perusahaan yang hadir pada Job Fair tersebut, di antaranya Bank Danamon, BRI, Kreditplus, Indomobil, PT Saba Indonesia, dan lain sebagainya. Fadlil berharap pada Job Far kali ini para pencari kerja langsung interview seperti tahun-tahun sebelumnya.

Job Fair merupakan upaya UAD untuk memberikan peluang atau jalan bagi mahasiswa UAD yang sedang mencari kerja. “Karena itu kami adakan Job Fair setelah wisuda. Harapannya, mahasiswa UAD langsung mendapatkan kerja,” kata Fadlil dalam sambutannya Selasa (14/11/2017).

Sebelumnya, pada Sabtu (11/11), UAD telah mewisuda 1.171 mahasiswa di periode November 2017. UAD mengadakan perhelatan wisuda tiga kali dalam setahun. Dengan adanya Job Fair tersebut diharapkan mahasiswa langsung mencari kerja.

“Semoga acara ini bermanfaat bagi semua orang yang sedang mencari kerja, khususnya bagi mahasiswa UAD,” tukasnya.

Herdiyana Asmoroningtyas: Pencak Silat dan Penemuan Jati Diri

Herdiyana Asmoroningtyas kelahiran Sleman 1 Juni 1999 merupakan mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia Fakultas Satra, Budaya, dan Komunikasi (FSBK), Universitas Ahmad Dahlan (UAD). Ia mengikuti lomba Airlangga Championship Tapak Suci National Open 2017 dan mendapatkan Juara 1 Tingkat Nasional Kelas E, di Surabaya Jawa Timur, yang diselenggarakan pada 30 Oktober-5 November 2017 lalu.

Ini adalah pengalaman Herdiyanan pertama kali mewakali universitas. Sebelum mendapatkan juara di perlombaan ini, ia pernah merndapatkan juara saat SMP dan SMA, seperti Popda Kab. 2013 Juara 1 Pencak Silat Putri, Popda DIY. 2013 Juara 2 Pencak Silat Putri, Popda Kab. 2014 Juara 1 Pencak Silat Kelas Putri, Popda DIY. 2014 Juara 2 Pencak Silat Kelas Putri, Kejurda Pencak Silat Remaja DIY. 2014 Juara 1 Kelas F Putri,  Popda Kab. 2015 Juara 1 Pencak Silat Kelas G Putri, Popda DIY. 2015 Juara 2 Pencak Silat Kelas G Putri, O2sn Kab. 2015 Juara 1 Pencak Silat Kelas F Putri, O2sn DIY. 2015 Juara 2 Pencak Silat Kelas F Putri, Tapak Suci National Championship UMY 2015 Juara 1 Kelas Bebas Putri, Popda Kab. 2016 Juara 1 Pencak Silat Kelas G Putri,  Popda DIY. 2016 Juara 1 Kelas G Putri, O2sn Kab. 2016 Juara 1 Pencak Silat Kelas F Putri, O2sn DIY. 2016 Juara I Pencak Silat Kelas F Putri, O2sn Nasional. 2016 Juara 2 Pencak Silat Kelas F Putri, Popwil III DIY. 2016 Juara 2 Pencak Silat Kelas G Putri, Popda XIV 2017 Juara 2 Pencak Silat Kelas E Putri.

Motivasi Herdiyana belajar pencak silat dilatarbelakangi karena ia anak perempuan tunggal di keluarganya.

“Saya anak tunggal di keluarga saya. Jadi saya berpikir, nantinya yang jaga saya dan keluarga saya siapa? Apalagi saya perempuan. Maka saya belajar pencak silat sejak SMP yakni tahun 2013. Setelah ikut pencak silat, saya tertantang karena awalnya selalu kalah. Di pencak silat, saya menemukan jati diri saya yang sebenarnya,” ujar perempuan yang sekarang aktif di Ortom Tapak Suci UAD.

Saat ditanya tentang kesulitan membagi waktu, ia menjawab bahwa itu semua bukan halangan. Disiplin adalah kuncinya.

“Kalau akan lomba, perasaan gugup, deg-degan, takut, pusing, dan sakit kepala itu sudah biasa. Tapi itu hanya berlangsung ketika di luar gelanggang. Saat sudah masuk, semuanya hilang dan tubuh rileks. Saya mendapatkan juara ini bekat doa orang tua, keluarga, dan temen-temen.”

Ia menambahkan, tips-tips saat mengikuti lomba yaitu berdoa, usaha, ikhtiar, tawakkal, dan latihan.

Rektor UAD Ketua Artipena DIY 2017-2019

Dr. Kasiyarno, M.Hum., Rektor Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta resmi dilantik sebagai Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Aliansi Relawan Perguruan Tinggi Anti Penyalahgunaan Narkoba (Artipena) Daerah Istimewa Yogyakarta Periode 2017-2019.

Prosesi pelantikan yang berlangsung Kamis (9/11/2017) di Hotel Lafayette dihadiri beberapa pejabat Badan Narkotika Nasional (BNN), pemerintah DIY, dan anggota Artipena Pusat maupun wilayah. Pembentukan DPW Artipena DIY merupakan mandat langsung dari Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Artipena.

Kasiyarno menjelaskan, narkoba adalah salah satu ancaman serius bangsa. Peredarannya sudah sedemikian masif dan sasaran utamanya kebanyakan merupakan pelajar. Terbentuknya Artipena DIY yang melibatkan berbagai perguruan tinggi negeri maupun swasta adalah untuk mendukung program pencegahan dan penanggulangan narkoba.

“Nantinya kami akan coba membentuk satgas di berbagai perguruan tinggi. Memberikan penyuluhan di sekolah-sekolah, serta memberi layanan rehabilitasi bekerja sama dengan lembaga terkait. Artipena sifatnya edukatif.”

Sementara itu Ketua DPP Artipena, Surya Hapsoro, menerangkan, sampai hari ini dalam satu hari ada sekitar 57 orang meninggal karena narkoba. Kebanyakan dari yang meninggal merupakan masyarakat dengan usia produktif.

“Kami beranggapan, kalau sudah kehilangan masa muda, jangan sampai kehilangan masa tua. Perederan narkoba tidak bisa dihentikan begitu saja, perlu kerja sama dari semua elemen. Untuk para korban perlu diedukasi, tetapi untuk pengedar pantaslah kalau dihukum mati,” tukas Surya.

Ia menginginkan perguruan tinggi memiliki imunitas terhadap narkoba. Salah satu cara yang saat ini sedang ditempuh Artipena adalah mengusulkan masuknya program pencegahan, pemberantasan, penyalahgunaan, dan peredaran gelap narkoba (P4GN) ke dalam borang Akreditasi Institusi Perguruan Tinggi (AIPT). (ard)

Kuliah Penting, tapi Orangtua yang Terpenting

“Meski lebih dekat dengan Bapak, Ibu yang lebih sering membuat saya khawatir. Penyakit yang dideritanya membuat saya was-was, terkadang sampai tidak fokus kuliah.”

Wisudawan terbaik S1 Universitas Ahmad Dahlan (UAD) periode November 2017 dengan IPK 3,96 ini begitu khawatir terhadap kesehatan kedua orang tuanya. Pasalnya, ia benar-benar harus membagi waktu untuk studi dan merawat Ibunya yang rutin menjalani pemeriksaan di rumah sakit.

“Bagi saya kuliah penting, tapi yang terpenting adalah orang tua. Tanpa keduanya, saya merasa bukan siapa-siapa. Merekalah yang selama ini membesarkan dan terus berdoa untuk saya,” terang Novie sesenggukan ketika diwawancarai di kampus 1 UAD, Jln. Kapas 9, Semaki, Yogyakarta.

Sampai sekarang, yang membuatnya dapat bertahan dalam menghadapi setiap permasalahan adalah mental yang sudah ditempa sejak ia kecil. Sudiyono, yang bekerja sebagai guru Sekolah Dasar (SD) selalu tegas, keras, dan bijaksana dalam mendidik Novie. Sosok bapak inilah yang juga terus mengajarkan pentingnya mempelajari ilmu agama.

Perempuan kelahiran Purworejo ini menambahkan, bahwa bapak adalah salah satu motivasi yang membuatnya masuk ke program studi Pendidikan Guru dan Sekolah Dasar (PGSD) UAD. Novie memiliki keinginan menjadi seperti bapaknya. Menjadi guru yang tidak hanya mengajar pengetahuan umum saja, tetapi juga mendidik agar anak-anak memiliki akhlak yang baik, berkarakter, serta memahami dan mampu mengamalkan ilmu agama.

“Empat tahun lagi beliau purna, sudah hampir 35 tahun Bapak mengabdi. Sekarang giliran saya meneruskan perjuangannya,” ungkap gadis kelahiran November 1994 ini.

Novie beranggapan, salah satu faktor yang menjadikannya sebagai wisudawan terbaik karena iklim pembelajaran di UAD. Menurutnya, selain belajar pengetahuan umum, UAD juga mengajarkan ilmu-ilmu agama yang menjadi nilai tersendiri ketika kelak menjadi seorang pendidik.

“UAD termasuk universitas yang berkualitas dan berbasis keislaman. Saya bisa belajar sambil mengaji dan mendalami ilmu agama.”

Salah satu momen yang akan terus diingatnya ketika di UAD adalah saat ia sedang menyelesaikan skripsi.

“Waktu itu menjelang lebaran, kesehatan Ibu tiba-tiba drop dan harus segera dirawat di rumah sakit di Yogyakarta selama beberapa hari. Saat itu juga saya sedang berusaha menyelesaikan skripsi. Saya ingat betul, bagaimana rasanya lebaran di rumah sakit. Merawat Ibu dan mengerjakan tugas akhir. Dan beberapa minggu kemudian disusul Bapak yang masuk rumah sakit.”

“Saya selalu berdoa dan meminta kepada Allah. Saya yakin Allah tidak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuan umatnya. Akan ada hikmah di balik itu semua. Saya hanya menjalankan apa yang Allah berikan. Kejadian dan musibah yang sudah kami alami menandakan bahwa Allah masih sayang kepada keluarga kami.” (ard)