Mahasiswa BK Raih Juara 3 di Olimpiade BK UM Malang

Ida Ittifaqur Rosidah, mahasiswa semester 5 Program Studi Bimbingan dan Konseling (Prodi BK) berhasil meraih juara 3 lomba bimbingan kelompok dalam Olimpiade Bimbingan dan Konseling di Universitas Muhammadiyah Malang (UM Malang), 28 Oktober 2017 lalu.  Ditemui di aula kampus 2 Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Ida menjelaskan ada dua tahap yang harus ia lalui dalam lomba bimbingan kelompok tersebut. Tahap pertama adalah tes tertulis dengan 100 soal, yang harus ia kerjakan dalam waktu 90 menit. Setelah lolos tes tertulis, Ida masuk ke babak final.

“Kalau lomba bimbingan kelompok di UM Malang kemarin, sistemnya berbeda dengan lain. Lomba ini sistemnya individu, hanya saya yang maju sebagai konselor. Sedangkan, anggota kelompoknya diambil dari sukarelawan penonton babak final saat itu. Tahap pertama tes tertulis, setelah lolos dan masuk babak final, ada praktik bimbingan kelompok,” jelasnya.

“Lawan dari universitas lain semuanya hebat. Seperti yang juara pertama kemarin, sangat menguasai keterampilan menjadi pemimpin, menguasai dinamika kelompoknya. Teknik public speaking-nya juga sangat baik, jadi peserta kelompoknya lebih aktif,” tambah Ida.

Walaupun merasa hasil yang didapat belum maksimal, ia mengaku sangat bangga atas juara yang berhasil diraih.

“Saya beberapa kali ikut olimpiade belum berhasil, sekarang bisa meraih juara 3 tentu sangat bangga dan bersyukur. Saya berharap bisa mempertahankan prestasi ini, dan di masa depan dapat meningkatkannya lagi,” ucapnya dengan senyum. (dev)

 

Debat Ekonomi Digital, UAD Raih Peringkat 3

Tim dari Universitas Ahmad Dahlan (UAD) berhasil membawa pulang peringkat ketiga dalam lomba debat bertajuk Prospek Ekonomi Digital bagi Peningkatan Pertumbuhan Ekonomi pada awal Oktober lalu. Tim yang digawangi oleh Sumini (Program Studi Bimbingan Konseling), Sopyan Jepri Kurniawan (Program Studi Bimbingan Konseling) dan Faizatu Zulakhah (Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan) ini mengikuti lomba debat dalam rangka Forum Ilmiah HIMADIPA yang diselenggarakan Universitas Syiah Kuala (UNSYIAH) Aceh bersama universitas lain dari seluruh Indonesia. Kegiatan lomba berlangsung pada Senin-Selasa (2-3/10/2017) di kampus UNSYIAH Aceh.

Sumini menjelaskan bahwa pada babak penyisihan, UAD melawan Universitas Sumatra Utara dengan posisi tim kontra dengan mosi ekonomi digital untuk mendukung pemberdayaan produk lokal. Setelah lolos ke semifinal, Sumini dan kawan-kawannya bertemu dengan Institut Teknologi Bandung 1 (ITB 1). Pada perebutan juara ketiga, tim UAD berhadapan dengan tuan rumah UNSYIAH.

“Jujur, ini pertama kalinya kami mengikuti lomba debat, dan dengan persiapan yang seadanya. Kami yakin sebenarnya jika dengan persiapan yang lebih matang, UAD dapat meraih hasil yang lebih baik lagi. Tapi untuk pemula, kami sangat bangga dapat meraih peringkat ketiga. Harapan kami, karena UAD sebenarnya sangat mendukung mahasiswanya untuk dapat berprestasi, semoga informasi tentang lomba atau kompetisi lebih banyak disalurkan kepada mahasiswa. Namun, dengan catatan persiapan yang matang, jika perlu diberikan dosen pendamping dan melalui proses karantina,” tuturnya. (dev)

Mandiri Pangan: Indonesia Harus Kembali ke Fitrahnya

 “Saya berharap Indonesia dapat kembali ke fitrahnya. Sebagai negara yang dilewati garis khatulistiwa, Indonesia harus lebih mendukung sektor agraris pangan dan pendidikan. Menurut saya, Indonesia bisa maju jika fokus pada kedua sektor tersebut,” ujar R. Hari Hariyadi, S.P., M.Sc., dosen Program Studi Teknologi Pangan Fakultas Teknologi Industri (FTI) Universitas Ahmad Dahlan (UAD).

Hari menjelaskan, sudah banyak usaha yang dilakukan prodi untuk turut membantu Indonesia dalam sektor pangan, salah satunya melalui berbagai penelitian dan pengabdian masyarakat.

“Untuk Hari Pangan tahun 2017 ini, lebih difokuskan tentang cara Indonesia mewujudkan mandiri pangan. Dari pihak prodi melalui pengabdian masyarakat dan penelitian, kami menekankan bagaimana pangan ini dapat bermanfaat bukan hanya sebagai makanan, tetapi juga untuk kesehatan. Prodi melakukan pengembangan functional food, semacam itu. Tentu, inisiasi ke masyarakat sudah sering dilakukan dengan bekerja sama dengan kelompok masyarakat. Terakhir, ada pengabdian masyarakat dari salah satu dosen yang menyasar kelompok masyarakat di Sleman untuk bidang pengolahan susu kambing,” jelasnya lebih lanjut.

Kepala Lembaga The Service Applied Technology and Entrepreneurship tersebut menjelaskan, permasalahan kurangnya Sumber Daya Manusia (SDM) pada sektor pangan disebabkan mindset masyarakat yang menganggap bahwa pangan hanya tentang pertanian, mencangkul di ladang, dan lain sebagainya. Fungsi Prodi Teknologi Pangan di masyarakat adalah memberikan informasi bahwa sektor pangan adalah sektor yang penting dan kuat.

“Tugas kami tentu membenarkan mindset, mendidik dan menciptakan pola pikir agar generasi muda tertarik pada sektor pangan. Terkait tema Hari Pangan tahun ini tentang menarik generasi muda agar tertarik pada sektor pangan, tentu pemberian informasi yang paling utama. Harus lebih digalakan talkshow atau diskusi-diskusi tentang peran pemuda dalam pembangunan sektor pangan. Arahnya lebih kepada sosiopreneurship.”

Sebagai dosen yang menangani bidang kemahasiswaan di prodi, Hari menyatakan bahwa kecenderungan mahasiswanya condong kepada sosiopreneruship. Para mahasiswa ingin menjadi praktisi di bidang pangan, membuka usaha untuk menghidupi dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya. Keinginan tersebut sejalan dengan konsep sosiopreunership; kebermanfaatan bagi lingkungan sekitar. (dev)

Suster Felis: Pendidikan Karakter Perlu sejak Dini

Suster Felisita Sihura, mahasiswa Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PGPAUD) meraih peringkat esai terbaik dalam Seminar Nasional “Hebat Berkomitmen Tegakkan Perlindungan Anak dan Perempuan” yang diselenggarakan Universitas Negeri Semarang (UNNES), 25 Oktober 2017 lalu. Esainya yang berjudul “Efektivitas Kebijakan PAUD antara Harapan dan Wacana” mengangkat tentang memudarnya karakter bangsa Indonesia pada anak-anak generasi masa kini.

“Saya melihat banyak fenomena seperti kekerasan, bullying, dan narkoba. Hal-hal itu menunjukkan bahwa karakter bangsa Indonesia sudah mulai menghilang. Sangat penting menanamkan nilai-nilai atau karakter baik kepada anak sejak usia sejak dini. Saat usia dini, anak-anak berada pada puncak keingintahuan yang tinggi, maka ketika anak distimulus atau diberikan penanaman karakter di kehidupan sehari-hari, saya yakin itu akan membantu membentuk kepribadian dan karakter yang baik,” ujar Suster Felis ketika ditemui di kampus 5 Universitas Ahmad Dahlan (UAD).

Esai yang meraih posisi terfavorit tersebut menggarisbawahi kebijakan-kebijakan pemerintah yang sering kali tidak sesuai harapan praktisi pendidikan di lapangan. Ia mempertanyakan perhatian pemerintah, apakah PAUD hanya sekadar wacana atau dapat menjadi harapan untuk masa depan.

“Misalnya saja, kita sering kali memikirkan apa yang akan kita lakukan. Namun, kita melupakan apa yang bisa kita lakukan saat ini. Jika tidak memikirkan dan mengeksekusi apa yang bisa kita lakukan, perencanaan awal yang tadi kita pikirkan akan menjadi wacana saja. Juga menjadi sebuah keprihatinan bagi saya, sering kali kontrol yang dilakukan pemerintah hanya sebatas formalitas saja, sehingga tidak ada evaluasi yang jelas,” ucap wanita asal Nias Selatan, Sumatera Utara tersebut.

Ketika ditanya tentang perasaannya sebagai peserta dengan esai terfavorit, wanita berkacamata itu menjawab dengan tawa, “Ya siapa yang tidak senang. Tentu saya senang, apalagi dapat menjadi sebuah kebanggaan bagi diri sendiri, bagi prodi sekaligus bagi universitas. Harapannya sebagai calon pendidik, saya siap untuk menjadi pendidik yang sungguh-sungguh memberikan diri untuk peserta didik saya dengan segala kompetensi yang saya miliki.” (dev)

UM Banjarmasin Studi Banding ke UAD

Sepuluh pengunjung dari Universitas Muhammadiyah Banjarmasin (UMBJM) yang sampai di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) disambut langsung oleh Wakil Rektor I Dr. Muchlas, M.T., Wakil Rektor III Dr. Abdul Fadlil, M.T., serta beberapa biro UAD.

Muchlas mewakili UAD memberikan penjelasan kepada para pengunjung seputar UAD.

“Dari pertemuan ini diharapkan bisa terjalin hubungan baik, dan kita bisa belajar bersama,” kata Muchlas dalam sambutannya dalam acara yang berlangsung di ruang sidang rektorat kampus 1 UAD, Selasa, (31/10/2017).

Alfian Mauricefle, S.Sos., MAP. selaku Wakil Rektor 1 berharap dalam pertemuan tersebut mendapatkan banyak pelajaran dari UAD. Ia mengaku, di Kalimantan, alumni UAD banyak memberikan kontribusi, khususnya di bidang farmasi.

“Itulah salah alasan kami ingin belajar ke UAD,” terangnya.

Tujuan UMBJM ke UAD adalah untuk mendapatkan wawasan dan melihat tentang pengolahan administrasi, kepegawaian, keuangan, pengelolaan administrasi akademik dan kemahasiswaan, serta melihat administrasi tata usaha kampus terpadu dengan beberapa kampus yang terpisah. Dalam kesempatan ini, terjadi dialog dua arah antara UMBJM bersama Wakil Rektor dan biro-biro dari UAD.

Selain ke UAD, UMBJM juga melakukan kunjungan ke UMY dan UNISYA. (ss)

PPTTG Study Banding ke TPST UNDIP

 

Pusat Pengembangan Teknologi Tepat Guna (PPTTG) merupakan pusat studi yang berada di bawah Lembaga Penelitian dan Pengembangan (LPP) Universitas Ahmad Dahlan (UAD). Pada Kamis, 26 Oktober 2017, PPTTG mengunjungi Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Universitas Diponegoro (UNDIP) yang berlokasi Semarang, Jawa Tengah. Kunjungan ini bertujuan untuk studi banding mengenai pengelolaan sampah kampus.

Perwakilan dari UAD mayoritas adalah dosen Fakultas Teknologi Industri (FTI), di antaranya Zahrul Mufrodi, S.T., M.T. (selaku ketua PPTTG dari dosen Teknik Kimia), Titisari Juwitaningtyas, S.T.P., M.Sc. (dosen Teknologi Pangan), Ika Dyah Kumalasari, Ph.D. (dosen Teknologi Pangan), Utaminingsih Linarti., S.T., M.T. (dosen Teknik Industri), Okka Adiyanto, S.T.P., M.Sc. (dosen Teknik Industri), dan Gita Indah Budiarti, S.T., M.T. (dosen Teknik Kimia).

Permasalahan mengenai sampah memang sering ditemui, tetapi pengolahan sampah dengan sentuhan teknologi akan lebih bermanfaat.

“Saat ini, memang belum ada upaya edukasi maupun pengelolaan secara terpadu untuk sampah kampus di UAD. Harapannya, masyarakat kampus memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan memiliki kultur modern terhadap sampah. Mengolah sampah dengan sentuhan teknologi sangat diperlukan, sehingga sampah dapat diubah kebermanfaatannya menjadi sumber energi ataupun sumber daya lain yang bernilai guna tinggi,” ungkap Titis selaku anggota PPTTG UAD.

Dari kunjungan tersebut, para dosen dapat mengetahui sistem pengelolaan sampah terpadu di kampus beserta kendala dan tantangan yang dihadapi.

“Saya yakin dengan dukungan dari segenap pihak, UAD mampu menjadi lebih baik dan terwujud cita-cita sebagai green campus university. Harapannya, UAD mempunyai sistem yang terpadu dan berkelanjutan untuk pengelolaan sampah kampus dengan aplikasi teknologi, sehingga sampah dapat dikonversi menjadi energi, pupuk, atau yang lainnya, serta dapat memberikan sumbangsih kepada masyarakat sebagai icon and the center of excellence dalam permasalahan sampah masa depan,” tutup Titis. (sch).

 

Partisipasi Mahasiswa UAD di Hari Sumpah Pemuda ke-89

Hari Sumpah Pemuda ke-89 diperingati pada Sabtu, 28 Oktober 2017 di Stadion Mandala Krida dengan kegiatan bertema “Deklarasi Kebangsaan dan Kuliah Akbar Perguruan Tinggi Melawan Radikalisme se-provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY)”. Turut hadir dalam acara tersebut Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X, anggota Forkopimda DIY, aparat hukum, dan ribuan mahasiswa dari 60 perguruan tinggi yang tersebar di seluruh DIY.

Ketika memberikan orasi kebangsaan, Sri Sultan Hamengkubowono X juga menyampaikan mengenai kondisi bangsa saat ini.

“Kini, rakyat terus bertanya, mengapa rasa damai selalu terusik oleh radikalisasi dan intoleransi. Sampai kapan hujatan, kebencian, dan kekerasan yang dibalut kebohongan itu terhenti oleh nurani,” ungkapnya.

Permasalahan mengenai radikalisme dan intoleransi memang sangat gencar dalam perbincangan masyarakat Indonesia, sehingga bertepatan dengan hari Sumpah Pemuda diselenggarakan kegiatan menarik ini.

“Di 34 provinsi yang ada di Indonesia mengadakan hal yang serentak, yakni deklarasi kebangsaan dengan momentum hari Sumpah Pemuda,” papar M. Ikhsan Ridho selaku panitia dari Universitas Veteran Yogyakarta, menjelaskan tentang latar belakang acara ini dilaksanakan.

Harapannya, kegiatan tersebut dapat menumbuhkan dan meningkatkan toleransi antarindividu seperti pilar bangsa Indonesia, yaitu Bhineka Tunggal Ika.

“Toleransi sekarang sudah berkurang, sehingga perlu ditingkatkan kembali, khususnya antarindividunya. Meskipun berbeda ras, suku, budaya, bahasa, dan agama, kita adalah satu, Indonesia,” ungkap Arif Rozaq Kurniawan, salah satu mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan (UAD). (sch)

 

PILMAH ke-1, Mahasiswa Hukum Sabet 2 Kategori Lomba

“Pupuk mental kompetisi, jangan takut kalah. Kegagalan akan membentuk DNA seorang pemenang.”

Begitulah yang disampaikan Muhammad Saleh, mahasiswa Fakultas Hukum (FH) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta yang berhasil mempersembahkan 2 trofi pada ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Hukum Nasional (PILMAH) ke-1 di UII. Ia mendapat juara 2 lomba esai dan terbaik 2 speaker legal case discussion.

Pada ajang yang menggandeng kerja sama dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Republik Indonesia ini, Saleh mampu mengungguli peserta dari beberapa Perguruan Tinggi Negeri (PTN).

Alhamdulillah bisa membawa UAD juara dalam 2 kategori. Ini sebagai bukti bahwa UAD saat ini sudah sejajar dan mampu bersaing dengan PTN.”

Laki-laki asal Dompu, Nusa Tenggara Barat ini mengaku sudah beberapa kali mengikuti lomba, tetapi selalu gagal. Dan pada kesempatan ini, ia merasa sangat beruntung dapat langsung memenangi 2 kategori lomba dalam waktu bersamaan.

“Motivasi saya mengikuti lomba untuk menambah pengalaman dan ilmu. Dengan lomba, saya terpacu terus belajar, juga sebagai ajang mengukur diri untuk bersaing dengan mahasiswa dari kampus lain,” tukasnya ketika ditemui di kampus 2 UAD, Jln. Pramuka 42, Yogyakarta.

Saleh, yang kini semester 7, tergabung dalam Komunitas Lantern Law di FH. Ia juga aktif di Pusat Konsultasi Bantuan Hukum (PKBH) UAD. Sebelum masa studinya di UAD selesai, ia terus berbenah dan mempersiapkan diri mengikuti beberapa perlombaan tingkat regional dan nasional. (ard)

UAD Terakreditasi A

“Terima kasih kepada semua pihak, yang telah mendukung penyelenggaraan pendidikan di Universitas Ahmad Dahlan. Dengan akreditasi ranking A ini, semoga UAD lebih terpacu untuk meningkatkan kontribusinya kepada masyarakat.” -Dr. Kasiyarno, M.Hum., Rektor UAD.

Dari penjelasannya ketika ditemui di ruang rektor, Sabtu (28/10/2017), Kasiyarno mengungkapkan prestasi yang dicapai ini merupakan akumulasi dari kinerja seluruh elemen di UAD. Capaian individu maupun kelompok, baik mahasiswa, karyawan, dosen, pimpinan program studi, fakultas, lembaga biro dan kantor, serta semua elemen.

Ditemui di tempat berbeda, Kepala Badan Penjaminan Mutu (BPM) UAD, Utik Bidayati, S.E.,M.M., menerangkan bahwa proses yang dilakukan untuk mencapai akreditasi A.

“Kami berjuang sejak 2014 untuk masuk akreditasi A. Saat itu, UAD masih dalam proses berkembang dan pembenahan. Selama kurun 2 tahun, UAD dapat membuktikan kalau kinerjanya meningkat. Hasil ini patut disyukuri, kita menunjukkan progres positif dalam menjalankan institusi."

Akreditasi yang diperoleh UAD sesuai dengan SK dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) Nomor 3632/SK/BAN-PT/Akred/PT/2017 Akreditasi Institusi Perguruan Tinggi (AIPT). (ard)

 

 

Paper Mahasiswa UAD Beri Inovasi Program SDG PBB

Ide Youth Enterpreneur Care yang digagas Novi Retno Ardianti berhasil masuk 5 besar dalam ajang International Youth Forum on Innovation (IYFI) di Singapura (20-23/9/2017). Kegiatan ini diselenggarakan oleh  Education and Connection (Edconnex).

Novi, mahasiswi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) Universitas Ahmad Dahlan (UAD), mampu bersaing dengan beberapa peserta IYFI lainnya dari negara-negara di kawasan Asia. Ide tersebut dicetuskan untuk memberi inovasi program Sustainable Development Goal (SDG) yang digagas Persatuan Bangsa Bangsa (PBB).

“Ide yang saya cetuskan untuk mendorong pengusaha muda selain bisa wirausaha, tetapi juga peduli terhadap sesama. Setiap bulan bisa memberi insentif untuk orang yang membutuhkan. Misalnya seperti di panti asuhan dan korban bencana.”

Ia beranggapan, pemuda harus aktif dalam berkreasi dan berinovasi. Tidak hanya diam di rumah saja. Saat ini, selain sibuk kuliah, perempuan kelahiran Yogyakarta ini juga menjadi pengusaha custom pillow.

Dengan usahanya itu, Novi dapat mempekerjakan beberapa karyawan dan sudah beberapa kali berkontribusi memberi insentif kepada panti asuhan dan korban bencana alam. Selain itu, dari usahanya, ia dapat membiayai kuliah dan memiliki tambahan uang saku. Kini, usaha yang dirintis sejak awal masuk UAD itu sudah memiliki penghasilan kotor sekitar 7-9 juta dalam kurun satu bulan.

“Awalnya cuma reseller, sekarang sudah produksi sendiri. Dengan menjadi pengusaha muda, saya mencoba mandiri dan ingin meringankan beban orang tua. Walaupun sudah punya usaha, harus tetap peduli dengan orang lain yang membutuhkan,” tukas ketua Debating Community (DeCo) UAD periode 2017-2018 ini.

Tercatat, lebih dari 10 prestasi telah ditorehkan Novi dari tingkat regional, nasional, maupun internasional. Saat ini, ia sedang berusaha memajukan usahanya sebagai implementasi dari idenya yang masuk 5 besar IYFI. Semakin besar dan maju usaha, akan semakin banyak orang yang dapat ditolong.

Perlu diketahui, IYFI merupakan kegiatan sebagai wadah bagi para pemuda antarnegara untuk memberikan inovasi serta berdiskusi bersama mengenai program SDG PBB. Kegiatan ini diikuti oleh pemuda dari Filipina, India, Singapura, Myanmar, Brunei Darussalam, Indonesia, dan Tiongkok, yang paper-nya telah diseleksi sebelumnya. (ard)