Upaya UAD Antisipasi Radikalisme

"UAD telah bekerja sama dengan civitas dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) sebagai perwakilan mahasiswa untuk mencegah adanya gerakan radikal," kata Rektor Dr. H. Kasiyarno, M.Hum. di sela-sela acara Syawalan Keluarga Besar Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta di kampus I Jalan Kapas 9 Yogyakarta, Rabu (5/7/2017).

"Kami percaya BEM, apalagi saat ini BEM UAD dipercayakan kepada Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Hal tersebut diharapkan bisa mengantisipasi kegiatan-kegiatan yang dinilai menyimpang," lanjutnya.

Rektor yang juga merupakan ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (Aptisi) wilayah V ini mengatakan antisipasi sudah lama dilakukan. Sebenarnaya isu radikalisme di lingkungan kampus bukanlah hal baru, hanya saja saat ini semakin gencar.

Untuk itu, Kasiyarno mengimbau kepada civitas UAD untuk bekerja sama, saling mengingatkan, dan menjaga. Tanpa sinergitas, sulit membangun UAD. Karena itu, kunci sukses adalah kerja, kerja, dan kerja.

Syawalan tersebut menghadirkan Prof. H.M. Amien Rais, M.A., mantan Ketua PP Muhammadiyah untuk mengisi tausiah.

Lidya Tarmizani Putri: Di Manapun Harus Tetap Belajar

“    Berikanlah sebanyak mungkin, maka kamu akan mendapat balasan sebanyak apa yang sudah kamu berikan, bahkan lebih.”

 

Bagi Lidya Tarmizani Putri, mengikuti ajang Mahasiswa Berprestasi (Mawapres) di tingkat Kopertis V dan Nasional merupakan kesempatan langka yang luar biasa untuk unjuk kemampuan diri dan mengharumkan nama Universitas Ahmad Dahlan (UAD).

Perempuan yang aktif berkegiatan di Debating Competition (DECO) Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) UAD ini merupakan juara 2 Mawapres Kopertis V Yogyakarta. Ia menjadi salah satu perwakilan Mawapres dari Yogyakarta di tingkat nasional.

“Saya sangat berterima kasih kepada UAD, khususnya teman-teman DECO. Di DECO, ada tradisi untuk mengirim Mawapres sehingga saya sangat termotivasi untuk terus mengembangkan diri di bidang akademik maupun non akademik. Secara pribadi keinginan mengikuti Mawapres adalah untuk membanggakan orang tua dan memiliki banyak prestasi,” ungkap Lidya ketika diwawancarai di kampus 2 UAD, Jl. Pramuka 42.

Dari penuturan Lidya, orang tuanya tidak memiliki tuntutan lebih di bidang akademik. Keduanya hanya menginginkan pendidikan yang terbaik bagi anaknya. Alasannya memilih bergabung dengan DECO karena sejak SMA ia suka debat.

“Dari SD tidak begitu suka pelajaran bahasa Inggris. Pekerjaan Ibu sebagai Tentara Nasional Indonesia (TNI) membuat keluarga sering berpindah-pindah tempat tinggal, sehingga bahasa menjadi salah satu kendala. Tetapi waktu SMP saya mulai menyukainya karena ada ujian bahasa Inggris sehingga saya harus mempelajarinya. Singkatnya berawal dari tidak suka menjadi suka.”

Sejauh ini perempuan kelahiran Tarakan, Kalimantan Utara 21 tahun silam itu sangat bersyukur dapat kuliah di UAD. Di UAD ia dapat mengembangkan minat dan bakatnya, serta memiliki motivasi untuk terus berkarya dan berprestasi. Ia bahkan sampai beranggapan kalau tidak masuk UAD mungkin tidak bisa seperti dirinya yang sekarang ini.

Sebagai Mawapres UAD 2017, Lidya sangat peduli terhadap pendidikan. Ia bersama teman-temannya di Jogja English Network  mengajar anak-anak inklusi di sekitar Yogyakarta sejak September 2016. Selain itu, perempuan yang suka membaca artikel ini juga sering mengajar anak-anak di panti asuhan.

“Saat mengajar anak-anak, saya teringat dengan pendidikan waktu kecil di Tarakan. Di sana secara keilmuan, pendidikannya tidak terlalu bagus. Proses pembelajaran masih menggunakan sarana dan prasarana seadanya. Tetapi yang benar-benar saya ingat, di Tarakan kami selalu diajarkan tentang nilai-nilai moral,” terangnya.

Sewaktu di Tarakan, rumahnya dikelilingi hutan dan tebing. Kini bersama kedua orang tua dan kakak laki-lakinya, Lidya menetap di Yogyakarta. Ia merasa nyaman tinggal di Yogyakarta. Namun, terkadang ia juga merindukan suasana di beberapa daerah yang pernah di singgahi beberapa pulau di Indonesia. Baginya, di manapun menetap bersama keluarganya, ia akan terus belajar dan mengembangkan diri. Terkadang, di waktu senggangnya mahasiswi semester 6 ini menjalankan bisnis katering dan travel.

Selain itu, Lidya mempelajari banyak hal terkait isu-isu nasional dan internasional, hukum, lingkungan, sosial, ekonomi, dan lainnya, termasuk apa yang terjadi saat ini. Penguasaan materi ini bertujuan untuk menambah wawasan ketika mengikuti lomba debat.

Terget selanjutnya setelah gagal di ajang Mawapres Nasional 2017, Lidya ingin melakukan penelitian dan publikasi jurnal ilmiah. Saat ini, ia mengikutkan jurnal ilmiahnya di Barcelona, Spanyol. Dari penjelasannya, kegagalan di tingkat nasional karena minimnya prestasi internasional yang ia raih.

Hal yang membutnya agak kecewa ketika mengikuti ajang Mawapres di Kopertis V adalah tidak adanya dosen maupun pimpinan yang mendampinginya.

“Saya tidak mengharapkan untuk didampingi. Namun, ketika ada yang mendampingi maka akan menambah kepercayaan diri dan lebih termotivasi. Mungkin bapak ibu dosen lupa atau punya kesibukan lain,” ungkapnya bergurau. (ard)

Ilham Rabbani: 5 Langkah Sederhana Menulis Puisi

 

“Mengolah gagasan menjadi karya, bagi saya hanya butuh lima langkah sederhana. Membaca, membaca, membaca, diskusi, lantas menulis,” terang Ilham Rabbani saat ditemui, Minggu (18/6/2017).

Ilham, begitu sering disapa, mendapat juara 2 lomba Penulisan Puisi Remaja yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) 2017. Mahasiswa Progam Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Ahmad Dahlan (PBSI UAD) ini mengaku suka menulis sejak masuk kuliah. Selain di studi, ia juga mengasah kemampuannya di komunitas belajar sastra Jejak Imaji dan Forum Apresiasi Sastra (FAS).

Baginya, yang paling penting adalah proses. Maka dari itu, ia selalu bersungguh-sungguh di dalam setiap proses.

“Tuhan tidak berkhianat, maka saya sabar dan ikhlas dalam proses (berkarya),” begitu ungkap pria kelahiran Lombok, 9 September 1996 ini.

Sebenarnya, bukan puisi yang menjadi utama ia gemari, tetapi esai.

“Urutan ketertarikan atau bidang yang saya tekuni dalam menulis yakni esai, puisi, dan cerpen.”

Ia tidak membatasi diri untuk memilih bahan bacaan. Mulai dari bahasa-sastra, sosial-politik, sejarah, pendidikan, keislaman, dan kitab-kitab tafsir, semua ia libas.

“Semua bacaan saya sukai, tetapi untuk saat ini saya masih terkagum-kagum oleh H.B. Jassin,” lanjutnya.

Lingkungan keluarga yang sederhana dan kental dengan Islam, juga mempengaruhi cara pandang dan berpikir Ilham. Ayahnya yang merupakan kepala Madrasah Ibtidaiyah dan Ibunya yang berdagang gorengan sekaligus petani, memberi keseimbangan yang saling mengisi.

Hingga saat ini, sudah banyak prestasi yang ditorehkan Ilham. Seperti juara 1 Resensi 2016 (Kreskit), juara 1 Penulisan Cerpen Amazing Orange 2016, juara 2 Penulisan Esai Amazing Orange 2016. Ia juga pernah menjadi Nominator Lomba Cipta Puisi ASEAN 2017 (DEMA FTIK IAIN Purwokerto) dan lomba Penulisan Esai Kompetisi Bahasa Indonesia untuk Mahasiswa Internasional FBS UNS Surakarta.

Puisi-puisinya tersebar dalam antologi bersama, di antaranya Rumah Penyair 4 (PBSI UAD, 2017), Requiem Tiada Henti (SKSP, 2017), Lebih Baik Putih Tulang daripada Putih Mata (KML Bangkalan, 2017), dan sebagian lainnya dimuat di media online dan media massa cetak. (stt)

 

 

 

Juara II Memotivasi Javid Lebih Baik Lagi

f

Foto Javid dilihat dari kiri

“Kadang yang seperti ini memicu untuk lebih baik lagi. Saya sedih karena juara II, tidak juara I. Tujuannya itu untuk menang bukan jadi juara, karena juara III itu kalah dengan juara II dan juara II kalah dengan juara I. Tetapi apa pun hasilnya harus disyukuri,” ungkap Javid saat ditemui Senin (05/06/2017).

Javid Novean Noorcha, mahasiswa Teknik Industri Universitas Ahmad Dahlan (TI-UAD) angkatan 2015 berhasil meraih juara II di ajang Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Tapak Suci Antar Perti ke-II di Universitas Sebelas Maret (UNS) Jumat-Minggu, 29 Maret-02 April 2017. Pada kejuaraan yang diikuti oleh berbagai atlet dari 58 perguruan tinggi se-Indonesia tersebut, tidak membuat Javid lega meski meraih juara II.

Ia mengaku sudah melakukan persiapan untuk Kejurnas yang digelar di Gedung Olahraga UNS, selama 4 hari tersebut. Bersama Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Tapak Suci UAD, ia rutin melakukan latihan untuk persiapan kejuaraan.

“Latihan dilaksanakan 2 bulan sebelum kejuaraan. Latihan 3 kali dalam seminggu dan sebulan sebelum Kejurnas latihan ditingkatkan menjadi 5 kali dalam seminggu,” ungkapnya.

            Tapak Suci UAD memang ada latihan rutin untuk setiap minggunya, guna menciptakan atlet yang berkompeten. Semua anggota akan mengikuti seleksi untuk bergabung mengikuti Kejurnas, tetapi hanya beberapa saja yang terpilih untuk mengikuti Kejurnas tersebut.        

“Semangat saat latihan salah satu kriteria dalam proses seleksi dalam even Kejurnas,” tutup Javid. (Sch).

 

Amalia, Peneliti Muda Psikologi Terbaik Indonesia

Hidup harus cerdas dan punya banyak pengalaman.”

Amalia Rizkyarini mahasiswa program studi Psikologi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta terpilih menjadi peneliti muda psikologi terbaik Indonesia 2017. Penganugerahan tersebut diberikan pada acara Konferensi Nasional ke-2 Peneliti Muda Psikologi Indonesia yang diadakan oleh Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka Jakarta Selatan pada 20-22 April 2017.

Konferensi nasional ini diikuti oleh 120 peserta dengan 86 Judul paper dari berbagai universitas di Indonesia. Tema yang diangkat Cyberpsychology dan Literasi Informasi. Acara ini didukung oleh Asosiasi Psikologi Perguruan Tinggi Muhammadiyah (APSI PTM) serta Konsorsium Psikologi Ilmiah Nusantara (KPIN).

“Ajaib”, begitulah yang disampaikan Amalia ketika ia terpilih sebagai peneliti psikologi muda terbaik Indonesia 2017.

“Waktu itu seperti mimpi, ajaib! Alhamdulillah, Allah selalu punya rencana yang tidak bisa kita duga,” ungkapnya.

Perempuan kelahiran Surabaya ini memiliki ketertarikan di bidang penulisan sejak Sekolah Menengah Pertama (SMP). Waktu itu, ia tergabung dalam jurnalis majalah sekolah. Beberapa tulisannya pernah dimuat di media cetak lokal Mojokerto.

Setelah masuk perguruan tinggi, Amalia mulai mengasah bakatnya di bidang debat, penulisan karya tulis ilmiah (KTI), dan esai. Beberapa lomba debat tingkat regional maupun nasional pernah dimenangkannya. Begitu pula dengan lomba KTI dan esai.

“Menulis KTI dan esai membuat saya banyak belajar, terutama membaca buku-buku teori. Kalau boleh jujur, sebenarnya saya lebih suka baca buku bergenre anak-anak karena memiliki muatan psikologis. Buku anak-anak lebih ringan untuk dibaca dan mengasyikkan.”

Untuk terus mengasah bakat menulis dan membaca, Amalia sering mengikuti berbagai ajang perlombaan dan aktif di organsisasi. Baginya, mengikuti lomba adalah salah satu cara untuk menekan diri sendiri agar terus berkembang dan untuk membanggakan orang tua.

Kedua orang tua yang permisif memberi dampak signifikan pada perkembangan intelektual Amalia. Ayahnya, seorang TNI, mengajarkannya untuk bersikap tegas.

“Ayah dan Ibu memberikan kebebasan kepada saya. Saya diajarkan untuk bertanggung jawab terhadap apa yang telah dilakukan. Ayah tidak suka kalau anaknya ragu, jadi harus memantapkan diri,” terang anak pertama Artiyo dan Sudarini ini.

Saat ini, Amalia aktif di Indonesian Youth Team Regional Yogyakarta dan beberapa organisasi serta lembaga lainnya yang bergerak di bidang sosial dan psikologi. Di kampus, ia aktif sebagai reporter Fakultas Psikologi UAD.

Momen paling berkesan ketika mengikuti lomba adalah saat KTI-nya terpilih sebagai juara 1 pada lomba KTI tingkat nasional yang diselenggarakan FKM Universitas Indonesia (UI). Ia menyisihkan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi negeri maupun swasta.

“Paling berkesan ketika lomba KTI di UI. Waktu itu, saya menyempatkan untuk menulis ketika sedang sibuk-sibuknya mengurus Program Pengenalan Kampus (P2K) UAD. Alhamdulillah, saya dapat juara 1 dan itu saya anggap sebagai kado ulang tahun dari Allah. Kebetulan pengumuman lomba tanggal 7 September, tanggal 8 saya ulang tahun,” jelasnya sembari menahan tawa kecil.

Kemenangan di UI baginya merupakan kemenangan besar. Ia membuktikan diri bahwa mahasiswa perguruan tinggi swasta (PTS) tidak kalah bersaing dengan mahasiswa perguruan tinggi negeri (PTN).

“Pertama kali masuk UAD, saya merasa menyesal. Tetapi setelah melewati satu tahun perkuliahan, saya merasakan iklim yang membuat saya nyaman. Mungkin Allah punya maksud kenapa saya di sini. Di UAD, saya bisa mengeksplor diri untuk terus berkembang dan berprestasi.” (ard)

Rintis Pusat Konsultasi, PIK-M Sahabat Mentari Edukasi Anggota lewat Kunjungan

Pusat Informasi dan Konseling (PIK-M) Sahabat Mentari melakukan kunjungan studi ke Badan Narkotika Nasional pada 30 Mei 2017 lalu. Acara bertema “Konselor Adiksi” tersebut diikuti oleh 30 peserta yang seluruhnya tergabung dalam PIK-M Sahabat Mentari. Di sana, mereka mendapatkan ilmu tentang narkoba dan adiksi, serta langkah-langkah yang harus diambil sebagai seorang konselor adiksi. Luaran dari acara kunjungan ini berupa penyaluran ilmu dan sosialisasi yang akan direalisasikan pada bukan Agustus mendatang. Bertempat di Kabupaten Gunungkidul, PIK-M Sahabat Mentari menyasar pada masyarakat umum, baik remaja maupun dewasa.

Yayan Kastowo, ketua PIK-M Sahabat Mentari menjelaskan bahwa kunjungan tersebut bertujuan untuk menambah wawasan anggota, khususnya Seksi Bidang (Sekbid) NAPSA tentang strategi dan bahaya narkoba. Selain itu, kunjungan tersebut juga sebagai langkah edukasi yang harus diambil dalam rangka merintis sebuah pusat konseling.

“Untuk sementara belum ada kegiatan konseling secara resmi dalam bentuk pusat konseling. Tapi, sudah ada rencana untuk ke arah sana. Saat ini, kami sedang merintis pusat konseling dalam PIK-M Sahabat Mentari. Tindakan konseling adalah tindakan yang serius, konselor sendiri harus memiliki keterampilan, ilmu, dan banyak yang harus dipersiapkan. Maka sekarang kami masih dalam tahap edukasi konselor dalam PIK-M Sahabat Mentari,” jelas Yayan.

PIK-M Sahabat Mentari merupakan organisasi eksternal bentukan BKKBN yang telah diresmikan oleh Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dan berada di bawah naungan Program Studi Bimbingan Konseling (BK). PIK-M Sahabat Mentari terdiri atas bidang NAPSA, seksualitas, keagamaan, HIV/AIDS, serta bidang kecakapan dan keterampilan hidup.(dev)

Pangestu Helmi: Potret dan Ekspresi Diri

Foto hasil jepretan tangan terampil mahasiswa Program Studi Bimbingan Konseling Universitas Ahmad Dahlan (Prodi BK UAD) meraih peringkat pertama lomba fotografi Ramadan. Lomba yang diselenggarakan oleh Forum Mahasiswa Muslim Indonesia (FUMI) Universitas Negeri Semarang tersebut bertema “Pelita Ramadan dalam Bingkai Pendidikan”.

Adalah Pangestu Helmi Ambaryadi Putera, sosok di belakang kamera yang berhasil mengharumkan nama Prodi BK dan UAD. Pangestu begitu ia biasa dipanggil, mengaku kesulitan terbesar yang ia alami adalah waktu. Proses produksi dari pengumpulan ide, pembuatan konsep, pencarian talent dan photo session hanya dilakukan dalam waktu kurang dari 24 jam. Meskipun  begitu, ia mengaku puas dengan hasil yang dicapai.

“Kamera yang saya pakai itu kamera tua, peninggalan Bapak saya, Canon 50D. Lensanya juga lensa tua, Cosina 35/70 buatan tahun 1997. Jadi, lensanya itu hampir seumuran sama saya,” jelasnya saat ditanya tentang properti dan proses photo session.

Masih sambil tertawa, Pangestu kemudian melanjutkan, “Saya pakai dua speedlight. Satu ditaruh di bawah gaun tokoh malaikat, tujuannya untuk memberikan efek overlight pada tokoh malaikatnya, jadi kelihatan kalau dia itu makhluk astral. Satu speedlight lagi di belakang tokoh siswa SMA. Lalu, agar ada efek sparkly pada malaikatnya, saya pakai bedak yang ditaburkan ke udara terus ditiup, jadi pas kena speedlight ada sparkle-sparkle di sekitar malaikatnya.”

Tokoh-tokoh dalam foto “Di Hati Para Malaikat” tersebut diperankan oleh kawan-kawan sekelas Pangestu yaitu Aulia Cita sebagai malaikat, Endriya Nurfitasarai sebagai siswa SMA, dan Burhanuddin sebagai guru ngaji. Uniknya, tokoh malaikat dalam foto ini terinspirasi dari salah satu karakter game DOTA, Omni Knight. Karakter hero yang berjenis support tersebut bertugas melindungi map dan tim.

Pemuda kelahiran 11 Februari 1997 ini ternyata menyukai fotografi sejak sekolah dasar (SD). Bermula dari kedua orang tuanya yang bekerja di bidang IT, khususnya ayahnya yang sering memotret untuk kebutuhan multimedia pekerjaan. Berbekal kamera analog merek Pentax, Pangestu kecil sering mengikuti ayahnya pergi memotret. Kamera kedua yang ia miliki saat duduk di sekolah menengah pertama (SMP) adalah kamera analog Nikon F50.

“Sampai kira-kira kelas 2 SMP saya masih pakai analog. Pernah coba beli Canon 1000D yang waktu itu booming banget karena DSLR murah. Tapi setelah dicoba, menurut saya hasil fotonya masih jauh lebih bagus analog. Jadi, saya balik lagi pakai analog. Saya dulu juga sering ikut masuk kamar gelap sama Bapak buat liat proses cetak foto analog, tapi saya nggak mau ikut nyuci, takut tangan kasar,” jelasnya sambil tertawa.

Di SMP, Pangestu tergabung dalam ekstrakurikuler film dan fotografi. Dari ekstrakurikuler tersebut, ia kemudian dapat belajar dari fotografer-fotografer mumpuni yang tergabung dalam Asosiasi Fotografer Indramayu (AFI). Di Jogja, Pangestu mengaku belum mengikuti komunitas fotografi karena belum ada kesempatan. Namun, ia kerap bergaul dengan fotografer-fotografer Jogja yang ia kenal lewat media sosial asosiasi fotografer. Hingga saat ini, Pangestu masih berpegang teguh pada pesan ayahnya.

“Bapak saya itu nggak suka ikut komunitas, tapi saya malah disuruh ikut komunitas. Katanya, setiap orang itu punya warna sendiri, begitu juga dengan komunitas. Dari berbagai macam warna tersebut akan muncul warna yang baru, kamu boleh ikutin warna itu tapi kalau kamu merasa kamu punya warna sendiri dan warna kamu lebih bagus, kamu boleh belajar dari mereka tapi jangan ikut-ikutan. Karena setiap fotografer itu punya ciri khas.”

Pangestu mengaku, fotografi hanya sekadar hobi, tapi yang ia tekuni dengan sungguh-sungguh. Hingga saat ini, ia masih fokus pada jenis foto stilife. Dengan stilife, ia bisa bebas mengatur objek agar dapat mengandung pesan yang ingin ia sampaikan.

“Motret itu, menurut saya adalah ekspresi diri. Fotografi itu pokoknya tentang momen, background, foreground, story, object, subject. Gimana caranya memaksimalkan enam bidang tersebut menjadi sesuatu yang bernilai.” (dev).

Ahdi Sakha Hamida: Alumni UAD bagi Pengalaman Mengajar di Thailand

“Mengajar di sini tentu penuh tantangan karena sudah berbeda budaya. Terlebih mengajar anak-anak setingkat SD yang jumlahnya banyak. Kalau kita terlalu tegas malah diketawain. Alhamdulillah, sebelumnya sudah ada pembekalan dari kampus dan pengalaman di teater sehingga banyak membantu saya untuk mengondisikan kelas,” terang Ahdi Sakha Hamidan, S.S., saat diwawancarai via handphone oleh wartawan web Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Rabu (21/6/2017).

Ahdi, begitu sering disapa, merupakan salah satu dari 26 alumni UAD  yang mengikuti program Alumni Mengajar di Thailand yang berangkat sejak April lalu. Progam tersebut diadakan oleh Kantor Urusan Internasional (KUI) UAD yang sudah bekerja sama dengan 17 sekolah, khususnya di Thailand Selatan.

Pria yang pernah menjadi ketua Teater 42 UAD ini juga menjelaskan bahwa selain di SD, ia juga mengajar SMP dan SMA. Menurutnya, guru dan masyarakat di sana juga ramah-ramah.

“Guru-guru-guru di sini hampir semuanya ramah, sering bertegur sapa. Masyarakat di luar sekolah pun demikian. Saya sering dapat tebengan saat ada warga yang naik motor. Smiling country, hampir mirip di Indonesia,” lanjut alumnus Progam Studi Sastra Inggris UAD tersebut.

Mengenai komunikasi, menurutnya agak sedikit terbantu dengan guru-guru dan warga yang memakai bahasa Melayu. Karena secara geografis, letak Thailand Selatan masih berdekatan dengan Malaysia. (stt)

Syair Syiar Mustofa W. Hasyim

 

`

Film dokumenter-drama peraih juara 3 Pekan Seni Mahasiswa Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PSM PTM) 2017 adalah buah karya lima mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan (UAD). Adalah Ridho Kamaludin, Ngudi Pratomo Bangun, Diani Noor, Catur Merianto, dan Mukti Bima Heryasa, lima mahasiswa berprestasi yang berhasil memperkenalkan tokoh penyair dan punggawa sastra di Muhammadiyah, Mustofa W. Hasyim.

Dalam film “Syiar Syair”, terdapat tiga pembagian waktu, yaitu waktu Mustofa kecil, Mustofa remaja, dan ketika Mustofa dewasa. Ketiga pembagian waktu tersebut dilakukan tentu bukan tanpa pertimbangan. Titik-titik penting dalam kehidupan Mustofa W. Hasyim dibungkus secara detail dalam film tersebut. Orang-orang sekitar yang berperan penting dalam kehidupannya pun tidak luput diceritakan. Guru sewaktu Mustofa kecil adalah salah satu orang berpengaruh dalam perkembangannya dalam kepenulisan sastra. Ayah Mustofa yang penyayang dan sering membacakan cerita Pangeran Diponegoro sebelum tidur dan istri Mustofa yang selalu mendukung seluruh usaha dan keinginannya.

“Pertimbangannya, kami ingin mengangkat tokoh Muhammadiyah yang penting, tapi belum banyak dikenal oleh masyarakat. Maka jatuhlah pilihan kepada Pak Mustofa W. Hasyim,” jelas Ridho selaku sutradara. “Pak Mus itu sebagai penyair, penulis, dan pendakwah adalah sosok yang sangat menginspirasi. Ia sangat sederhana, dan sangat menghargai waktu. Yang luar biasa, Pak Mus tidak bisa naik motor jadi ke mana-mana diantar istrinya, naik becak, atau jalan kaki. Tapi biar pun jalan kaki sekalipun, ia selalu on time,” lanjut Ridho.

Salah satu titik penting dalam film ini adalah saat diceritakan tentang salah satu karya Mustofa W. Hasyim yang berjudul Ranting Itu Penting. Buku tersebut terbit atas dasar kegelisahan tentang Muhammadiyah yang pada saat itu belum dapat menjangkau masyarakat kalangan bawah di desa-desa di Indonesia. Filosofinya adalah ketika sebuah pohon berbuah, buahnya akan tumbuh di ranting, bukan di akar.

Namun, tentu saja terealisasinya film tersebut bukan tanpa dukungan dari orang-orang sekitar. Ngudi Pratomo Bangun bertemu dan mewawancarai banyak orang dalam proses pengumpulan fakta untuk naskah film “Syair Syiar” ini.

“Karena jenisnya dokumenter, maka ceritanya harus mengandung fakta. Selain mengumpulkan literasi seperti puisi-puisi dan tulisan-tulisan Pak Mus, kami juga mewawancarai orang-orang di sekitar Pak Mus, seperti Pak Iman Budhi Santosa selaku kawan penyair, Pak Jabrohim selaku Ketua LSBO PP Muhammadiyah, Bang Iqbal H. Saputra selaku tetangga, dan Ibu Suratini Eko Purwati selaku istri Pak Mus,” tutur Bangun.

Pemuda kelahiran 30 Desember 1994 itu menuturkan bahwa proses pengerjaan naskah dilakukan selama satu minggu, mengingat waktu produksi yang sangat terbatas. Film dokumenter-drama “Syair Syiar” dapat diakses di akun Youtube Rido Kamaludin (Romantic Quantum). (dev)

Prodi BK Borong Piala Lomba Ramadan di Semarang

Program Studi Bimbingan Konseling Universitas Ahmad Dahlan (Prodi BK UAD) membawa pulang tiga piala dari dua ranting lomba bertema Ramadan. Lomba yang diselenggarakan oleh Universitas Negeri Semarang (UNESA) tersebut digawangi oleh organisasi Forum Mahasiswa Muslim Indonesia (FUMI) dengan tema “Ramadan dalam Bingkai Pendidikan”. Ketiga piala tersebut adalah juara 1 lomba Videografi Ramadan, juara 2 lomba Videografi Ramadhan, dan juara 1 lomba Fotografi Ramadan.

Tim pertama yang digawangi oleh Rido Kamaludin, Ngudi Pratomo Bangun, Agung Gunawan, Ifa, Hasan, dan Diani, meraih juara 1 dengan video berjudul “Peradaban: Pulang”. Konsep video tersebut berangkat dari kegelisahan Rido dan Bangun sebagai mahasiswa semester delapan yang sedang menghadapi skripsi. Sebagai mahasiswa semester akhir di tanah rantau, tentu saat bulan Ramadan muncul kerinduan akan kampung halaman. Rindu keluarga, masakan ibu, rindu sahur dan berbuka bersama, serta lainnya. Kerinduan-kerinduan tersebut digarap hingga menjadi konsep video bertema Ramadan yang penuh makna dan pesan-pesan penting. Pesan yang ingin disampaikan dalam video tersebut adalah di bulan Ramadan, sesuatu yang dilakukan atas dasar kejujuran pasti akan berbuah manis dan terhitung sebagai sebuah ibadah.

Tim kedua meraih juara 2 dengan video berjudul “Peradaban: Prasangka”. Kelompok ini digawangi oleh Fikri Ari Gumelar, Ngesi Khasan, Riska Wuryandari, dan Pangestu Helmi. Video tersebut terinspirasi dari surat al-Hujurat ayat 12. Dikisahkan seorang pemuda yang ingin membantu pengemis, tetapi karena harta yang ia miliki tidak mencukupi, ia akhirnya memberikan makanan yang disediakan masjid kepada pengemis tersebut. Hal itu ternyata menimbulkan prasangka orang-orang yang melihat tindakannya.

Piala selanjutnya yang diboyong pulang dari Semarang adalah piala juara 1 lomba fotografi. Foto yang berjudul “Di Hati Para Malaikat” tersebut adalah karya Pangestu Helmi, mahasiswa semester 2 Prodi BK.

Kendati hasil yang didapat sangat memuaskan, tentu masih ada kesulitan yang dihadapi. Salah satunya waktu yang terbatas. Foto dan kedua video tersebut diselesaikan dalam waktu 24 jam. Karena keterlambatan informasi yang didapat, kedua tim harus bekerja ekstra cepat untuk menyelesaikan karya mereka. Dan, tentu saja hal tersebut tidak pernah lepas dari dukungan dan bimbingan dari pihak Prodi. (dev)

 

Video dapat diakses di

https://www.youtube.com/watch?v=F50NChupY88

https://www.youtube.com/watch?v=Yxgkr1w2DKE